Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Siapa yang Bodoh???

Pprogram kesehatan sebagus dan secanggih apapun tidak akan menjadi berhasil bila dalam implementasinya tidak memperhatikan "lingkungan" dimana program itu akan dilaksanakan.
implementasi program tidak serta merta semacam hitungan matematis dan ilmiah. Bila perhatian terhadap karakteristik sasaran meleset, maka program kesehatan yang bagus bisa menjadi basi.

Menyalahkan sasaran dengan berasumsi "bodoh", "ndeso", ataupun "kolot", tidak menyelesaikan masalah.
Tetap saja program mandeg. mangkrak.
Bahkan bila perlu menuduh balik, programmer kesehatannya "bodoh!", karena tidak bisa menyelami "lingkungan" dimana dia bekerja.

Dalam filosofi jawa mengajarkan bahwa menjalani sesuatu ada "empan-papan"nya.
segala sesuatu itu harus pada tempatnya, harus tepat waktu dan segala sesuatunya.
Programnya mungkin "bener, ning ora pener".
Programnya mungkin benar, tetapi belum tentu betul.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. eh tapi kita tidak sedang mancing kaan?


-ADL-

Cerita tentang Sri Sultan

Indrapura_Surabaya, 13 April 2012


Beberapa waktu lalu di milis ‘desentralisasi kesehatan...

Ada komentar dari rekan Alpiantri S.kep yang menanggapi artikel ‘Sultan: Kampanye Antitembakau Pangkal Pengangguran’ (http://regional.kompas.com/read/2012/04/02/14503997/Sultan.Kampanye.Antitembakau.Pangkal.Pengangguran) dengan tuduhan, Sri Sultan membuat sebuah keputusan hanya dengan melihat satu sisi saja;


“Sangat disayangkan seorang sultan berpidato seperti itu, hanya melihat
dari aspek ekonomi dan penganggurannya saja...”

dan saya spontan membalas,

“dear alpriantri, saya malah bisa menuduh sebaliknya.
Sampeyan cuman melihat dari sisi 'kesehatan'nya saja!
Banyak hal yang harus dipertimbangkan seorang decision maker.”

Tidak!
Saya bukannya tidak setuju dengan kampanye anti rokok.
Silahkan saja...


Yang saya tidak sepakat adalah bahwa tuduhan saudari Apriantri pada Sri Sultan yang hanya membuat keputusan berdasarkan hanya satu-dua pertimbangan saja.

Saya seseorang yang belajar ‘analisis kebijakan’,
dan tentu saja saya paham betul seorang decision maker tidak membuat kebijakan dengan semena-mena hanya berdasarkan satu bidang saja,
termasuk di dalamnya ‘bidang kesehatan’!

Seorang decision maker kadang membuat keputusan yang tidak disukai banyak orang, dan seringkali seorang decision maker membuat keputusan yang tidak disukai, bahkan dirinya sendiri.

Kebijakan adalah pilihan...
seringkali bukan soal salah atau benar,
tergantung kita mau memilih kebijakan yang mana,
yang terpenting adalah konsekuensi dari setiap pilihan.
Bisakah kita mengantisipasi konsekuensi pilihan kita?


-ADL-

#Kerja Keras?


Dalam banyak kesempatan kalakarya dan atau dialog dengan daerah, pada saat sesi paparan hasil survey Riskesdas yang menunjukkan output kinerja yang jauh dari harapan, seringkali terlontar sanggahan defensif dengan kemarahan luar biasa;

“Kami telah bekerja keras pak...”
“Kami ini sudah terlalu sering lembur pak...”
“Kami sudah kejar sasaran sampai ke rumahnya pak...”
“Bapak ini bicara seolah kami ini tidak berkerja...”
“Sudah semua cara kami lakukan pak! Kami sudah maksimal...”
“Bapak enak cuman ngomong doang, kami ini yang di lapangan sudah bekerja sangat keras!”
“Bapak ini tidak tahu situasi lapangan, hanya bicara angka-angka saja...”

Begitu banyak yang terlontar, begitu banyak yang terucap, dan hampir semuanya tersampaikan dengan emosi yang tersulut, meski kadang disampaikan dengan nada lirih yang tertahan.
Meski sebenarnya pengennya misuh-misuh*... (*mengumpat,red)

“Apakah mereka tidak bekerja keras?”
Heiii! Mereka bekerja keras!
Sangat keras bahkan...
Pekerja kesehatan banyak kali merupakan pekerja keras. Tak jarang mereka benar telah melakukan banyak hal melebihi gaji yang mereka terima.

Kemarahan yang ditunjukkan dengan kalimat defensif massif benar-benar mewakili pernyataan bahwa mereka telah bekerja keras, bahwa mereka telah bersama-sama melakukan banyak hal untuk kesehatan di wilayahnya, untuk masyarakat yang diampunya.

Saya ulang pertanyaannya,
Apakah mereka telah bekerja keras?”
Dan berdasarkan amatan lapangan, tidak bisa kita pungkiri mereka memang benar telah bekerja keras! Sangat keras!!!
Mereka, yang tergabung dalam wadah Dinas Kesehatan telah bekerja bersama-sama dengan sangat, untuk berusaha membangun kesehatan yang lebih baik di wilayahnya.
Dan lalu apa yang kurang?
Kerja sama!
Yup, kerja sama!
Mereka telah bekerja keras bersama-sama, tapi seringkali belum bekerja sama.

Maksud???
Dalam sebuah kerja sama, yang dibutuhkan bukan hanya kerja keras, tapi ada koordinasi di dalamnya, ada dialog di antara para pelakunya.

Dialog???
Yaa... dialog! Yang seringkali kita bawa dan dengungkan dimana-mana.
Dialog bukan hanya sekedar media koordinasi. Dialog juga merupakan media saling memahami dengan visi bersama. Dialog adalah media melebur struktur internal menjadi sebuah struktur kolektif. Dialog merupakan sebuah therapi wicara, yang kadang kita terlupa, bahwa banyak para rekan kita di lapangan butuh didengar keluhannya, kadang bukan untuk dicarikan sebuah solusi, kadang mereka benar-benar hanya ingin didengar, mereka sudah memiliki solusi ampuh atas masalah di lapangan itu. Bukankah justru mereka yang paling tahu masalah yang mereka hadapi?

Bekerja sama!
Dan bukan hanya bekerja keras bersama-sama...

Piye jal?