Beberapa waktu lalu di milis ‘desentralisasi kesehatan...
Ada komentar dari rekan Alpiantri S.kep yang menanggapi artikel ‘Sultan: Kampanye Antitembakau Pangkal Pengangguran’ (http://regional.kompas.com/read/2012/04/02/14503997/Sultan.Kampanye.Antitembakau.Pangkal.Pengangguran) dengan tuduhan, Sri Sultan membuat sebuah keputusan hanya dengan melihat satu sisi saja;
“Sangat disayangkan seorang sultan berpidato seperti itu, hanya melihat
dari aspek ekonomi dan penganggurannya saja...”
dan saya spontan membalas,
“dear alpriantri, saya malah bisa menuduh sebaliknya.
Sampeyan cuman melihat dari sisi 'kesehatan'nya saja!
Banyak hal yang harus dipertimbangkan seorang decision maker.”
Tidak!
Saya bukannya tidak setuju dengan kampanye anti rokok.
Silahkan saja...
Yang saya tidak sepakat adalah bahwa tuduhan saudari Apriantri pada Sri Sultan yang hanya membuat keputusan berdasarkan hanya satu-dua pertimbangan saja.
Saya seseorang yang belajar ‘analisis kebijakan’,
dan tentu saja saya paham betul seorang decision maker tidak membuat kebijakan dengan semena-mena hanya berdasarkan satu bidang saja,
termasuk di dalamnya ‘bidang kesehatan’!
Seorang decision maker kadang membuat keputusan yang tidak disukai banyak orang, dan seringkali seorang decision maker membuat keputusan yang tidak disukai, bahkan dirinya sendiri.
Kebijakan adalah pilihan...
seringkali bukan soal salah atau benar,
tergantung kita mau memilih kebijakan yang mana,
yang terpenting adalah konsekuensi dari setiap pilihan.
Bisakah kita mengantisipasi konsekuensi pilihan kita?
-ADL-