Tampilkan postingan dengan label curhat semprul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat semprul. Tampilkan semua postingan

#Pelukan Hangat


Saat ini... biarkan lelaki yang mencintaimu ini pulang
Bermanis mukalah...
Berlagaklah bahwa kau juga mencintainya sepenuh hati
Berpuralah bahwa dia adalah harapan bagi hidupmu

Saat ini... biarkan lelaki yang mencintaimu ini pulang
Terimalah dia dengan pelukan hangat...
Besarkanlah harapan akan masa depan
Jangan biarkan sakit itu menjadikannya lemah

Saat ini... biarkan lelaki yang mencintaimu ini pulang
Rengkuh dia dalam peluk hangatmu...
Berikanlah kenyamanan yang selalu diinginkannya
Dan lalu... biarkanlah racun itu bekerja dengan sempurna


Alia Cikini_Jakarta, 11042012

#Sampun sonten nimas

Sampun sonten nimas...
perjalanan kita seharusnya sudah hampir memenuhi purna
aku, terengah mengapai akhir

Sampun sonten nimas...
mungkin tlah habis masa bersenang
sudah bukan lagi waktunya memenuhi hari dengan kekonyolan

Sampun sonten nimas...
tanganNya telah terentang menyambut
meski aku malu, hati terlalu sering melupa



Sampun sonten nimas...
mungkin bukan lagi waktu bagi kita, meski sekedar ada
doa tak lagi bisa menggetarkan langit, seorang pendosa

Sampun sonten nimas...
Mungkin benar tak ada lagi waktu, bersamamu
Meski sekedar, minum kopi


Indrapura_Surabaya, 29 Maret 2012

Telimpuh #2

Menempuh jalan sabar bukannya sekali
Ianya sekali... sekali... sekali...
berkali dan berkali!

Terlalu sering menempuh aral yang lebih mirip tembok beton tak berujung
Hanya berujung pada rasa neg dan muak yang teramat
Bukan lagi tentang jalan yang berliku
Ini hanya tentang jalan yang lurus... terlalu lurus!
Lurus dan langsung menabrak kerasnya kebekuan

Sungguh tak ingin hanya berdiam dalam jengah
Bergeser... beringsut sedikit pun sudah sangat melegakan
Lebih mirip sepoi angin yang menerpa saat menikmati hangatnya kopi pagiku

Tapi kaki ini terlanjur letih
Hati terlanjur bersandar pada lemahnya rasa ingin
Melupa pada awal yang menggebu... hampir!
Tak lagi tergapai...
uluran tangan yang semakin saja... menjauh!

Diam... hanya diam!
Memejam mata lelah yang semakin redup
Menghembus nafas dalam yang semakin dalam
Melepas beban yang semakin sarat
Membayang pelukan Kekasih yang sungguh mendamaikan
Bilakah aku kembali padaMu?

Kembali pada titik awal
Pada saat semua dunia dalam genggaman
Pada saat hitam menjadi sedemikian berwarna
Pada saat satu tarikan nafaspun berujung pada seribu kebaikan
Pada saat... telimpuh padaMu menjadi  sebuah nikmat tak berujung!


Padjadjaran Suites Hotel_Bogor, 16 Februari 2012

#Bunda, Tiada Selainmu...


Bunda. Berkali sikap dan tindak ini menyakiti hati dan rasamu. Berkali selalu saja ma’afmu mencurah penuh untuk itu.

Bunda. Berkali engkau menangis karena sikap pongahku. Berkali selalu saja kau sedia pangkuan yang selalu saja menenang keangkuhanku.

Bunda. Berkali tubuhmu tercabik sinisme egoku. Berkali selalu saja kau ikhlaskan untuk selalu bisa mendukungku.

Bunda. Berkali sakit, dera dan semua yang bernama lain kesedihan memenuhi hari-harimu. Berkali selalu saja tanganmu terkembang menerimaku apa adanya.

Bunda. Tiada seorang di dunia ini yang mendapat panggilan bunda dari bibirku selainmu. Kerna padamu menemu kedamaian yang mampu mendinginkan angkuhku.


Maharadja Hotel_Jakarta, 29 Desember 2011

#Bila Ini Adalah Sebuah Jalan



Bila ini adalah sebuah jalan yang harus dilalui, maka tidak ada pilihan lain selain menjalaninya sepenuh hati.


Bila ini adalah sebuah jalan untuk menjalankan sisa dharma yang berkali terabaikan, kubutakan mata selain hanya penuh pada jalanMu.


Bila ini adalah sebuah jalan yang satu-satunya untuk menujuMu, maka kaki gemetar akan tetap melangkah pasti di jalan itu.


Bila ini adalah sebuah jalan untuk bisa rebah dipangkuanMu, maka tidak ada kekuatan selainMu yang harus kuhirau selain cahaya menujuMu.


Bila ini adalah sebuah jalan... seret saja , paksa aku, bersimpuh di kakiMu!




Maharadja Hotel_Jakarta, 29 Desember 2011

#Jalan Kembali



Seorang lelaki dan keangkuhannya. Kembali terjengkang menawar takdir yang ditulisnya sendiri. Merintih meratapi jalan yang benar harus dilaluinya. Sakit, tentu saja!

Jalan kesendirian dalam bingarnya kehidupan harus kembali diterjang dengan tubuhnya yang semakin ringkih. Terjengkang berkali harus dilewati untuk menjadi berani. Meski selalu saja, melemahkan hati.

Lelaki dengan keangkuhannya. Tunduk rebah kepada Sang Pembolak-balik Hati. Tak ada lagi yang tersisa dari tegaknya sebuah keinginan selain hanya kembali. Terima nasib yang mencabiknya demi sebongkah hati.

Sekali lagi menempuh jalan Ibrahim yang terlalu lama tergeser keangkuhan. Bukannya sekali, ianya berkali.
Tuhan, masih saja merentangkan tanganNya. Penuh!

Ibrahim bukannya tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi ianya selalu saja kembali.

Seorang lelaki dan keangkuhannya, memegang kembali sebuah yakin yang digenggamnya penuh.
Kali ini, tanpa keangkuhan yang telah diambil kembali Sang Pemilik Angkuh.

Jalan berduri dan berkerikil tajam adalah jalanmu untuk kembali!



Maharadja Hotel_Jakarta, 29 Desember 2011

#masih sangat!

Bandara Soetta_Jakarta, 12 November 2011


delay setengah jam.mungkin cukup waktu untuk sekedar merenung sebuah perjalanan, yang dibungkus atas nama pengabdian.meski seringkali bingung dan tak mengerti, apa benar memberi kontribusi?
hanya seringkali merasa menikmati, saat bersama-sama dengan banyak ponggawa negeri, yang benar-benar sangat menikmati menjadi seorang pengabdi.

mendengung-dengungkan pelajaran,
"bergaulah dengan penjual minyak wangi, maka kamu akan tertular wanginya..."

aku ingin wangi? tentu saja! meski seringkali tak bernyali telimpuh padaMU.
hanya yang suci milikMu? aku bukan

memandangMu dari kejauhan, berharap tanganMu yang terulur, bukankah Engkau Maha Tahu tentang hati yang menginginkan? bukankah Engkau Maha Mengerti tanpa harus kubisikkan?

aku padaMu? tentu saja!
meski terlalu sering mengambil jalan yang bukan milikMu
aku pengabdiMu? masih! sangat!

 
tidakkah ingin memelukku... Kekasih?

#Kebenaran

Indrapura_Surabaya, 14 November 2011


Kebenaran. Apa sebenarnya kebenaran? Terdengar sangat idealis bagiku.
Setia pada kebenaran? Dari awal sampai akhir? Entahlah...

Seringkali aku hanya merasa bahwa kebenaran hanyalah tujuan akhir.
Bagaimana dengan prosesnya? Entahlah...

Aku masih saja sering merasa ingin sesekali lepas dari kebenaran, meski bukan berarti benar-benar melakukan sebuah kesalahan. Hanya ingin sesekali melakukan sesuatu yang ‘kurang benar’, itu saja!
Nongkrong bersama-sama dengan rekan-rekan pejuang, penggiat ‘kebenaran’ versi kami, sambil ngepulkan asap rokok, yang melayang membumbung membawa angan dan cita kami ke langit tujuh.
Merokok bukanlah sebuah kebenaran di ‘bidang’ku, tentu saja! Aku sangat tahu itu! Tapi...

Kebenaran. Aku lebih suka membahasakan dengan kebaikan.
“semoga semua kebaikan, dan hanya kebaikan, melekat padamu sampai akhir...”
Demikian doa yang sering kudengungkan, kupostingkan, kutwitkan... pada rekan-rekanku.

Kudoakan selalu tentang 'kebaikan', bukannya 'kebenaran'. Benar-tidaknya aku tidak tahu, ato lebih tepat aku tidak peduli. Aku hanya ingin semua kebaikan selalu bersama dengan teman-temanku, rekan-rekanku, sobat-sobatku, yang ‘para pejuang’ menurutku.
Doa yang lebih sering sebagai sebuah pernyataan atas kekaguman pada kegigihan & kekonsistenan pada nilai-nilai yang diyakini sebagai sebuah kebenaran.

Kebaikan. Menurutku lebih mempunyai nilai, valuable, sebagai sebuah ‘sikap’ yang masih manusiawi. ‘kebenaran’ yang masih dalam batas-batas nilai kemanusiaan.

Apapunlah...
“semoga semua kebaikan, dan hanya kebaikan, melekat padamu sampai akhir...”


-ADL-

#Galau?

Bandara Soetta_Jakarta, 12 November 2011


galau?
pikirmu apa yang membuatmu tertampar sedemikian galau?
apakah laparmu?
hausmu?
atau cuman nyali cemen saja!

galau?
mau tau tentang galau?
coba dengarkan ini;
"ngapain nelpon, Ayah Ga pernah Ada di rumah..."

atau coba rasai dengan hatimu tentang ini;
"...kayak Ga punya ayah..."

itu galau!
itu sebenar galau!!!

#Surabaya

Bandara Soetta_Jakarta, 12 November 2011


Surabaya,
Apakah hujan menjadi milikmu hari ini?
Saat aku kerontang mengharap sejukmu

Raga telimpuh tergerus laga
Bersandar penuh bermandi peluh
Sesaat,
sebelum benar menjadi hilan

Pulang
Berharap benar sampai di pangkuan
Menitip resah meski tahu kau lelah

Rehat saja bila tak mampu

#kebiri

kemayoran_jakarta, 10 november 2011


mungkin bagimu aku masih saja harapan
mungkin...
sementara terkulai di sini beban bagimu

tingginya angan yang terlalu
membumbung harap yang berlebih
tak sepadan 

berjalan padamu meski tempatku
tak ingin membeban meski inginku telimpuh
hanya menumpulkan
mematikan

sekedar kabar menjadi sedemikian berat
pada akhirnya

#demi ibu pertiwi...

taon 2010 kemaren emang taon nyang bener2 kudu kerja keras!
segala sesuatunya keseringan menjadi kejar tayang.
yah.. apa mau dikata, demi ibu pertiwi kataku!
dan temen yang ngakunya sohib terbahak2 mendengar alasanku

taon yang dalam 5 bulan terakhirnya hampir ga kenal hari libur... ga kenal hari minggu!
semua tanggal merah ditabrak demi ngejar deadline yang ga juga mau bergeming.
partner dari kementerian kesehatan pun ikutan pontang-panting mengimbangi gerakan litbangkes.

sampai saat momen paling menggelikan itu muncul...
hari selasa, tanggal 7 desember 2010... taon baru hijriah!
kita tetep kerja ngumpul di bekasi mulai hari minggu.

senin sore orang partner kita yang orang kementerian kesehatan nanya...

"besok libur kan?" tanyanya.
"nggaaaaak!" serempak kami menjawab.
"kejar tayang neh! kudu selese 2 hari lagi," sahut senior laennya.

dan sekonyong2 partner kita nyeletuk...

"hahhh! kek ga punya Tuhan aja... hari raya kok kerja!"

#TAK LAGI

Mataram, 29 April 2011

Birunya hati pagi ini tak lagi tentang banyaknya keinginan yang belum dan tak akan pernah bisa terpenuhi. Ianya lebih karena kelemahan yang berwujud pada kesadaran sebagai sebuah wayang yang jalannya sudah digariskan begitu saja, seberapapun berusaha.

Meski juga kewajiban sebagai wayang untuk tetap berusaha.

Tapi sungguh, kesadaran sebagai wayang begitu melegakan, begitu meluaskan hati, atas apapun hasil, sebagai akibat dan konsekuensi dari sebuah upaya yang bernama kerja keras.

Harapan hanyalah seonggok harapan, tak bisa beranjak dari semua ketentuan.

Keikhlasan, meski selalu saja tertulis dalam tinta emas sebagai sebuah pengakuan dan perwujudan atas ilmu paripurna, tetap saja lebih menjadi sebuah pepesan kosong sebagai sebuah sikap yang seringkali dilakonkan setiap wayang dengan setengah hati, dengan berlindung atas sebuah kata permisif, manusiawi.

Berharap tak lagi…
meski…

aahh…

demi ibu pertiwi...

taon 2010 kemaren emang taon nyang bener2 kudu kerja keras!
segala sesuatunya keseringan menjadi kejar tayang.
yah.. apa mau dikata, demi ibu pertiwi kataku!
dan temen yang ngakunya sohib terbahak2 mendengar alasanku
taon yang dalam 5 bulan terakhirnya hampir ga kenal hari libur... ga kenal hari minggu!
semua tanggal merah ditabrak demi ngejar deadline yang ga juga mau bergeming.
partner dari kementerian kesehatan pun ikutan pontang-panting mengimbangi gerakan litbangkes.

sampai saat momen paling menggelikan itu muncul...
hari selasa, tanggal 7 desember 2010... taon baru hijriah!
kita tetep kerja ngumpul di bekasi mulai hari minggu.
senin sore orang partner kita yang orang kementerian kesehatan nanya...

"besok libur kan?" tanyanya.
"nggaaaaak!" serempak kami menjawab.
"kejar tayang neh! kudu selese 2 hari lagi," sahut senior laennya.

dan sekonyong2 partner kita nyeletuk...

"hahhh! kek ga punya Tuhan aja... hari raya kok kerja!"