Mataram, 29 April 2011
Birunya hati pagi ini tak lagi tentang banyaknya keinginan yang belum dan tak akan pernah bisa terpenuhi. Ianya lebih karena kelemahan yang berwujud pada kesadaran sebagai sebuah wayang yang jalannya sudah digariskan begitu saja, seberapapun berusaha.
Meski juga kewajiban sebagai wayang untuk tetap berusaha.
Tapi sungguh, kesadaran sebagai wayang begitu melegakan, begitu meluaskan hati, atas apapun hasil, sebagai akibat dan konsekuensi dari sebuah upaya yang bernama kerja keras.
Harapan hanyalah seonggok harapan, tak bisa beranjak dari semua ketentuan.
Keikhlasan, meski selalu saja tertulis dalam tinta emas sebagai sebuah pengakuan dan perwujudan atas ilmu paripurna, tetap saja lebih menjadi sebuah pepesan kosong sebagai sebuah sikap yang seringkali dilakonkan setiap wayang dengan setengah hati, dengan berlindung atas sebuah kata permisif, manusiawi.
Berharap tak lagi…
meski…
aahh…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar