Berniat menuju ke langit ketujuh…
Bersiap untuk tahu, memahami, merasai kesempurnaan sebagai mahluk
Berkeinginan untuk menumpahkan segala cinta pada Kekasih Sang Maha cinta
Oh Kekasihku Cintaku betapa kumerindukanMu
Rindu harus diwujudkan bukan?
Kusiapkan sayap-sayapku…
Kepak-kepak sayap kecil pun terkembang membesar sebesar yakinku akanMu
Kugelembungkan nyali sebesar biji sawi tiwikrama menjadi gunung menjulang memukul langit
Kurapikan hati berjajar hanya untuk menuju padaMu Kekasih sejatiku
Kubisikkan mantra memabukkan demi memuaskan madadku tentangMu
Ahh… betapa rindu dendam memenuhi hatiku akanMu
Sudahlah cukup basi-basi itu… berangkat saja sebelum terlambat!
Baiklah…
Kujejakkan kaki membentur bumi bertolak menjemput impianku tentangMu
Kepak sayap melebar terkembang penuh seiring gemuruh dzikirku mengenang kebesaranMu
Akulah sang pencinta… akulah sang perindu... yang tak kuasa membendung rasa padaMu
Melesat sekuat semburan gunung berapiMu… secepat putaran waktuMu
Tegak lurus menembus batas langit menggapai harap dalam asa cintaMu
Betapa memabukkan dalam harap akan limpahan rengkuh kasihMu
Langit pertama kusinggahi hanya untuk terus bertekuk lutut dalam kuasa cintaMu
Indah hamparan taman bunga dalam pandangan sabana maha luas
Kuasa cinta mana yang hendak kudustakan?
Merangkak naik enggan meninggalkan kenikmatan pertama yang sungguh melenakan
Membersit berkas syukur yang mememabukkan atas segala curah cintaMu Kekasih
Sayap seakan enggan terkembang… kepaknya pun lemah tergerak tak ingin berpaling
Ahh… perjalanan harus dilanjutkan bukan?
Proses harus dilalui… harus dijalani!
Langit kedua… aku akan datang!
Sambutlah sang pecinta dalam sebisa gegap gempitamu
*dengan setengah keinginan yang tertahan…
Gerbang langit kedua…
Tak perlu aku mengetuk pintumu bukan?
Aku adalah yang dirindukan, aku adalah yang dinanti… benarkah??
Heii… dimana penghunimu?
Ini aku yang datang! Sang pencinta!
Sepi…
Hmmm… terdengar bunyi air jatuh.. ah bukan! Air tertampar!
Sosok seorang dewi dalam genangan kolam surgawi… bidadarikah???
Sejuta tanya terkembang dalam degup jantung yang gegap gempita
Tidak lagi teringat akanMu…
Yang ada hanya rasa bergolak meretas dalam setiap aliran darah
Meracuni otak dengan segala bayang indah… bukan tentangMu
Dia tersenyum… ya Allah Kaulah Maha sempurna itu!
Luruh penat dalam diri yang membatu
Terbelit lidah kelu tiada yang terucap
Hanya mematung, berdiri dalam titik tak tergoyah
Tangan tengadah tersambut dalam genggam kuat tak terlepas
Masihkah ada langit ketujuh dibenakku?
Sayap terdiam isyarat sebuah jawab
Keinginan beranjak tak lagi kuat… tak lagi ada
Hanya terdiam disini merasai nikmatMu, luruh keinginan untuk menujuMu
Sayapku lemah terpatahkan…
Setiap helai bulunya berguguran dalam ritmis bisikan dzikir yang kokoh hanya sebagai sebuah kewajiban atasMu
Aku… sang pencinta, tertahan disini merasai setitik belas kasihMu
Aku yang tertahan…hiks…
Surabaya, 8 November 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar