hari kesehatan nasional???
betapa banyak dari kita yang gak tau menau
tentang hari kesehatan yang jatuh pada hari ini. jangankan masyarakat
umum, orang kesehatan sendiri banyak yang nggak tau, pun orang kesehatan
yang bekerja di dinas.
agak gatal aja melihat fenomenanya...
apapun...
hal itu yang terjadi, so.. saya terpaksa posting lagi artikel ini yang
sebelumnya sudah pernah tayang di blog health advocacy
(www.health-adocacy.blogspot.com), semoga bisa diterima...
awas klo enggak!!!
***
Dalam
suatu kesempatan diskusi tentang kebijakan via facebook, bu Evie
Sopacua (AV) menekankan pentingnya ‘agenda setting’ dalam suatu
proses/siklus policy analysis.
(siklus policy analysis menurut para
pakar terdiri 3-4 tahapan; policy formulation, policy implementation,
policy review/evaluation, dan satu lagi ada yang memasukkan agenda
setting sebagai salah satu tambahan tahapan)
Boleh dong kalau saya punya pendapat lain.
Tidak ada salah benar dalam hal ini, kembali lagi ini merupakan masalah pilihan.
(kalo kurang sepakat juga gak apa-apa)
Menurut saya.., sekali lagi menurut saya!
Ada
hal satu lagi yang jauh lebih penting yang justru berada di luar siklus
policy analysis tersebut, yaitu isue atau masalah kebijakan.
Suatu
kebijakan seharusnya dibuat atau dirumuskan berdasarkan permasalahan
riil yang ada di masyarakat. Artinya, yang sudah benar-benar jadi
perbincangan di masyarakat.
Yang hendak saya angkat adalah
bukannya bagaimana merumuskan isu public, kalo untuk itu lebih baik anda
baca buku saja, yang hendak saya paparkan adalah bagaimana kita
berperan dalam sebuah isue publik.
***
Flu burung
misalnya, atau flu babi akhir-akhir ini. Dapat dilihat bagaimana
taktisnya kebijakan yang digariskan dan dijalankan oleh pemerintah dalam
penanganan masalah ini.
Karena sudah menjadi perhatian publik,
maka pemerintah benar-benar mencurahkan segala daya upaya untuk meredam
masalah tersebut. Segala sumber daya dikerahkan, termasuk dana, yang
hampir selalu merupakan kambing hitam di lapangan.
Korban meninggal flu burung sampai dengan saat ini mungkin cuman dalam hitungan puluhan atau paling banyak ratusan (total).
Bandingkan
dengan AKI (Angka Kematian Ibu). Hasil survey rumah tangga yang
dilakukan dalam SDKI (Survey Demografi Kesehatan Indonesia) pada tahun
2002/2003 menunjukkan angka 307/100.000 kelahiran hidup atau 20.000 per
hari, berarti 50,5 per hari atau 2,1 per jam.
Lebih dari 2 ibu melahirkan mati setiap jamnya! Setiap jamnya! Bayangkan!!!!!!!
(tanda serunya tak kasih banyak biar keliatan bombastis dan anda benar-benar mau membayangkannya dalam benak anda).
Dari
hasil itung-itungan epidemiologi mungkin dua kasus ini akan lain sudut
pandangnya. Tapi point saya sedang tidak ke arah sana.
Point saya
adalah dalam hal besaran korban, magnitude. Kasus flu burung dengan
korban yang hanya beberapa dibanding dengan AKI, dengan korban yang
sedemikian banyak, terjadi terus menerus, rutin, sekali lagi.. rutin!!!
Setiap tahun!
Tapi apa yang berkembang di masyarakat?
Kematian ibu merupakan hal yang biasa, sangat biasa malah.
Dan petugas kesehatan (decision maker) pun menganggap kasus AKI bukan sesuatu yang urgent, yang butuh penanganan secara cepat.
(berita
terbaru, berdasarkan hasil SDKI 2007 AKI sudah turun menjadi
228/100.000 kelahiran hidup, artinya setiap jam masih terdapat 1,55 ibu
melahirkan yang meninggal dunia)
Apa yang bisa kita pelajari dari
sini? Kasus flu burung bisa terselesaikan dengan cepat dan dengan
penanganan yang komprehensif karena telah manjadi isue publik yang
sangat dahsyat.
Hampir semua media massa memajang kasus ini setiap hari ketika sedang hangat-hangatnya.
Sedang kematian ibu…………………………………………………………..?????????
Saya
sedang tidak ingin menyalahkan siapa-siapa! Media massa? Lha memang
berita kematian ibu gak laku dijual, masyarakat gak tertarik untuk
membacanya, berita basi!!!
Terus..? yang salah kita! Saya dan anda semua!
(tuh kan tetap aja cari kambing hitam, katanya gak mau nyalahkan siapa2).
Mengapa
kita yang salah? Karena kita yang tidak mau berusaha menjadikan kasus
kematian ibu sebagai masalah public. Kita tenang2 aja ketika Angka
Kematian Ibu dilansir.
Kita hanya menganggap AKI tak lebih hanyalah sebuah indikator kesehatan.
Sudah sadarkah kita sekarang???!!!!??!
Selanjutnya apa yang harus kita lakukan?
Tulis! Tuliis!! Tuliiis!!! Tuliiiiis!!!!! Tuliiiiiiis!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
sebarkan pada masyarakat, kabarkan kepada dunia, kematian ibu juga sebuah masalah besar.
Dimana? Terserah… Koran terbit setiap hari, atau jaringan internet, facebook, blog apa saja.
(salut untuk Oriz Setiawan yang konsisten membawa kesehatan ke dunia luar).
Mari kita buat konspirasi besar untuk mengangkat kesehatan sebagai isue publik.
“Anda
si fulan 1 nulis tentang kasus A dari sudut pandang atas, anda si fulan
2 menyangkalnya, tulis tentang kasus A dari sudut pandang bawah, dan
anda si fulan 3 tidak bersepakat dengan fulan 1 dan 2, anda punya
pandangan lain, tulis tentang kasus A dari sudut pandangan samping”.
Paham bro? mudeng opo ora pren?
Buat
seakan kita bersebrangan satu sama lain, kita tidak sependapat, kita
konfrontir semuanya di ruang publik. Pastikan masyarakat menyadari bahwa
kasus yang kita angkat adalah sebuah masalah. Sambil melakukannya, kita
berdo’a bersama-sama sambil berharap, kawan kita yang jadi decision
maker telinganya tidak ditulikan, mulutnya tidak dibisukan, dan matanya
tidak dibutakan dan mau berdiri bersama-sama dengan kita.
Bro…!
tidak masalah anda sedang ada dimana, dalam posisi apa, staf puskesmas,
dinas kesehatan, rumah sakit, atau tidak di bidang kesehatan sekalipun.
Tubuh kita boleh terjebak dalam rutinitas pekerjaan, tapi otak kita
jangan!
Mari lakukan semuanya berjama’ah! Jangan sendiri2!
Bebaskan pikiran, lepaskan imajinasi!
Mari kita jadikan diri kita provokator! Demi ibu pertiwi!!!!