#Bunda, Tiada Selainmu...


Bunda. Berkali sikap dan tindak ini menyakiti hati dan rasamu. Berkali selalu saja ma’afmu mencurah penuh untuk itu.

Bunda. Berkali engkau menangis karena sikap pongahku. Berkali selalu saja kau sedia pangkuan yang selalu saja menenang keangkuhanku.

Bunda. Berkali tubuhmu tercabik sinisme egoku. Berkali selalu saja kau ikhlaskan untuk selalu bisa mendukungku.

Bunda. Berkali sakit, dera dan semua yang bernama lain kesedihan memenuhi hari-harimu. Berkali selalu saja tanganmu terkembang menerimaku apa adanya.

Bunda. Tiada seorang di dunia ini yang mendapat panggilan bunda dari bibirku selainmu. Kerna padamu menemu kedamaian yang mampu mendinginkan angkuhku.


Maharadja Hotel_Jakarta, 29 Desember 2011

#Bila Ini Adalah Sebuah Jalan



Bila ini adalah sebuah jalan yang harus dilalui, maka tidak ada pilihan lain selain menjalaninya sepenuh hati.


Bila ini adalah sebuah jalan untuk menjalankan sisa dharma yang berkali terabaikan, kubutakan mata selain hanya penuh pada jalanMu.


Bila ini adalah sebuah jalan yang satu-satunya untuk menujuMu, maka kaki gemetar akan tetap melangkah pasti di jalan itu.


Bila ini adalah sebuah jalan untuk bisa rebah dipangkuanMu, maka tidak ada kekuatan selainMu yang harus kuhirau selain cahaya menujuMu.


Bila ini adalah sebuah jalan... seret saja , paksa aku, bersimpuh di kakiMu!




Maharadja Hotel_Jakarta, 29 Desember 2011

#Jalan Kembali



Seorang lelaki dan keangkuhannya. Kembali terjengkang menawar takdir yang ditulisnya sendiri. Merintih meratapi jalan yang benar harus dilaluinya. Sakit, tentu saja!

Jalan kesendirian dalam bingarnya kehidupan harus kembali diterjang dengan tubuhnya yang semakin ringkih. Terjengkang berkali harus dilewati untuk menjadi berani. Meski selalu saja, melemahkan hati.

Lelaki dengan keangkuhannya. Tunduk rebah kepada Sang Pembolak-balik Hati. Tak ada lagi yang tersisa dari tegaknya sebuah keinginan selain hanya kembali. Terima nasib yang mencabiknya demi sebongkah hati.

Sekali lagi menempuh jalan Ibrahim yang terlalu lama tergeser keangkuhan. Bukannya sekali, ianya berkali.
Tuhan, masih saja merentangkan tanganNya. Penuh!

Ibrahim bukannya tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi ianya selalu saja kembali.

Seorang lelaki dan keangkuhannya, memegang kembali sebuah yakin yang digenggamnya penuh.
Kali ini, tanpa keangkuhan yang telah diambil kembali Sang Pemilik Angkuh.

Jalan berduri dan berkerikil tajam adalah jalanmu untuk kembali!



Maharadja Hotel_Jakarta, 29 Desember 2011

#jalani saja...




hanya sebuah ego dan keakuan.
bergerak meski tertatih.
menikmati mesti terjengkang.
tak lagi ada pilihan.
jalani saja...


bukan lagi saatnya mengeluh




surabaya, 27 desember 2011

#Sajak Berahi

Menyusuri lorong sebuah masa yang masih saja melekat erat di setiap sudut ingatan. Tentang kita. Masih hangat. Masih sepenggalan waktu. Serasa baru kemarin. 
Tanganmu masih erat dalam genggamku. Pelukku hangat merengkuh tubuhmu. Bibir itu... Selalu saja lembut saat senyummu terbasahi bibirku.

Hanya bisa tersenyum merasai.
Menyimpan rapi dalam sudut Hati.

Aku. Kamu. dan semua rasa rindu.


kawanua cempaka putih_jakarta, 10 desember 2011

#Beku

Aku memang diam. Berusaha menjadi batu.
Bukan tak punya rasa. Hanya menguncinya dalam ruang tak berpintu.

Dunia... Tetap saja akan berputar konstan. Meski tanpa kita. Meski Kata Mati melekat pada kita.
Dunia akan tetap indah. Meski kita hanya melihat neraka di dalamnya.

Aku berdiri disini. Tetap diam. Tetap beku. Menikmati akhirku.

Aku akan bersegera. Waktuku tak terlalu banyak. Dan bahkan untuk diriku. Do'akan saja...

Semoga semua kebaikan melekat erat padamu. Mengikut kemana setiap langkahmu tertuju...




kawanua cempaka putih_jakarta, 10 desember 2011

#Penuh

Tak bosan Kau dengungkan puja-puji cinta dalam semua batasan waktu
Dan aku masih saja menjadi pemuja setiap kata nya
Biarlah aku penuhi setiap sudut hati dengan rasa
Mengalirkannya dalam setiap tarikan nafas
Menyebarkannya dalam setiap pompaan jantung
Melantunkan ritmis seiring dzikir nadi


Aku penuh. PadaMu.




kawanua cempaka putih_jakarta, 10 desember 2011

#Seribu Peran

menikmati sebatang nikotin tanpa caffein.
selalu menjadi aneh.
seperti bertelanjang sambil menikmati sebuah panggung.
isis!

akulah penghuni taman sajak.
penikmat semua lakon.
penikmat seribu peran.
kamu. kamu. kamu!
bukan aku!

karna aku hanya penikmat.
seorang penonton.
tak lebih.

mari tabuh gendangnya.
menarilah penuh.
buat setiap penonton terperangah.
buat setiap penikmat takjub.

hingga menangis dalam tawa.
ngakak sampai berlinang air mata.


kawanua cempaka putih_jakarta, 09 desember 2011

#Panggungku!

kamu. berlagak drama queen.
aku. penonton setia.


tawa. tangis. canda. serapah.
apa yang terlewat?


baiklah. aku nikmati semua.
lakoni saja.


...dan aku terpukau!




kawanua cempaka putih_jakarta, 09 desember 2011

#pergilah

pergilah...
ambil langkahmu kemanapun engkau mau menuju
usah menoleh ke belakang, takkan ada kata memelas menghiba yang akan memintamu kembali
jangan pernah ragu, takkan lagi terulur tangan untuk mencegahmu berhenti.

pergilah...
telah berlalu semua cerita sepi
sudah tak ada lagi yang menginginkanmu di sini.


kawanua aerotel_cempaka putih_jakarta, 07 Desember 2011

#drama

Usah kau perlihatkan airmata di depanku,
Bukankah kesedihan sudah menjadi biasa?

Jangan kau pamer derita dengan isakmu,
Karna nestapa adalah nama tengah

Luka apalagi yang mau kau tunjukkan padaku?
Tidakkah terlihat jaringan parut panjang belum mengering?

Bawa saja semuanya di panggungmu
Jangan pernah kau suguh lagi di hadapku.


Soekarno-hatta_Jakarta, 07 Desember 2011

#merah

Biadab!!!
Pekikku tepat di telingamu
Tidakkah nurani pernah tersisa di sudut hatimu

Usah kau cari maknanya
Karna amarahku bukanlah sebuah metafora

Berlarilah...
Sebelum kutemu kau dalam jengah
Sembunyilah...
Atau remuk kau temu pada akhirnya.



Garuda, antara Surabaya-Jakarta, 07 Desember 2011

#puisi

Manis senyummu adalah puisi,
sebagaimana kerasnya gemeretak gigimu saat menahan amarah


Gemulai lambai tanganmu adalah puisi,
sebagaimana tanganmu terkepal penuh saat jengah memenuhi ruang hatimu


Lembut sapamu adalah puisi,
sebagaimana makimu memekak telinga saat terusik nuranimu


Senyum, lambaian tangan dan sapamu,
apa yang tidak aku tahu?


Setiap gerak adalah puisi,
yang memenuhi detak setiap hari




juanda_surabaya, 07 desember 2011

#Kerja Keras?


Dalam banyak kesempatan kalakarya dan atau dialog dengan daerah, pada saat sesi paparan hasil survey Riskesdas yang menunjukkan output kinerja yang jauh dari harapan, seringkali terlontar sanggahan defensif dengan kemarahan luar biasa;

“Kami telah bekerja keras pak...”
“Kami ini sudah terlalu sering lembur pak...”
“Kami sudah kejar sasaran sampai ke rumahnya pak...”
“Bapak ini bicara seolah kami ini tidak berkerja...”
“Sudah semua cara kami lakukan pak! Kami sudah maksimal...”
“Bapak enak cuman ngomong doang, kami ini yang di lapangan sudah bekerja sangat keras!”
“Bapak ini tidak tahu situasi lapangan, hanya bicara angka-angka saja...”

Begitu banyak yang terlontar, begitu banyak yang terucap, dan hampir semuanya tersampaikan dengan emosi yang tersulut, meski kadang disampaikan dengan nada lirih yang tertahan.
Meski sebenarnya pengennya misuh-misuh*... (*mengumpat,red)

“Apakah mereka tidak bekerja keras?”
Heiii! Mereka bekerja keras!
Sangat keras bahkan...
Pekerja kesehatan banyak kali merupakan pekerja keras. Tak jarang mereka benar telah melakukan banyak hal melebihi gaji yang mereka terima.

Kemarahan yang ditunjukkan dengan kalimat defensif massif benar-benar mewakili pernyataan bahwa mereka telah bekerja keras, bahwa mereka telah bersama-sama melakukan banyak hal untuk kesehatan di wilayahnya, untuk masyarakat yang diampunya.

Saya ulang pertanyaannya,
Apakah mereka telah bekerja keras?”
Dan berdasarkan amatan lapangan, tidak bisa kita pungkiri mereka memang benar telah bekerja keras! Sangat keras!!!
Mereka, yang tergabung dalam wadah Dinas Kesehatan telah bekerja bersama-sama dengan sangat, untuk berusaha membangun kesehatan yang lebih baik di wilayahnya.
Dan lalu apa yang kurang?
Kerja sama!
Yup, kerja sama!
Mereka telah bekerja keras bersama-sama, tapi seringkali belum bekerja sama.

Maksud???
Dalam sebuah kerja sama, yang dibutuhkan bukan hanya kerja keras, tapi ada koordinasi di dalamnya, ada dialog di antara para pelakunya.

Dialog???
Yaa... dialog! Yang seringkali kita bawa dan dengungkan dimana-mana.
Dialog bukan hanya sekedar media koordinasi. Dialog juga merupakan media saling memahami dengan visi bersama. Dialog adalah media melebur struktur internal menjadi sebuah struktur kolektif. Dialog merupakan sebuah therapi wicara, yang kadang kita terlupa, bahwa banyak para rekan kita di lapangan butuh didengar keluhannya, kadang bukan untuk dicarikan sebuah solusi, kadang mereka benar-benar hanya ingin didengar, mereka sudah memiliki solusi ampuh atas masalah di lapangan itu. Bukankah justru mereka yang paling tahu masalah yang mereka hadapi?

Bekerja sama!
Dan bukan hanya bekerja keras bersama-sama...

Piye jal?

#masih sangat!

Bandara Soetta_Jakarta, 12 November 2011


delay setengah jam.mungkin cukup waktu untuk sekedar merenung sebuah perjalanan, yang dibungkus atas nama pengabdian.meski seringkali bingung dan tak mengerti, apa benar memberi kontribusi?
hanya seringkali merasa menikmati, saat bersama-sama dengan banyak ponggawa negeri, yang benar-benar sangat menikmati menjadi seorang pengabdi.

mendengung-dengungkan pelajaran,
"bergaulah dengan penjual minyak wangi, maka kamu akan tertular wanginya..."

aku ingin wangi? tentu saja! meski seringkali tak bernyali telimpuh padaMU.
hanya yang suci milikMu? aku bukan

memandangMu dari kejauhan, berharap tanganMu yang terulur, bukankah Engkau Maha Tahu tentang hati yang menginginkan? bukankah Engkau Maha Mengerti tanpa harus kubisikkan?

aku padaMu? tentu saja!
meski terlalu sering mengambil jalan yang bukan milikMu
aku pengabdiMu? masih! sangat!

 
tidakkah ingin memelukku... Kekasih?

#Kebenaran

Indrapura_Surabaya, 14 November 2011


Kebenaran. Apa sebenarnya kebenaran? Terdengar sangat idealis bagiku.
Setia pada kebenaran? Dari awal sampai akhir? Entahlah...

Seringkali aku hanya merasa bahwa kebenaran hanyalah tujuan akhir.
Bagaimana dengan prosesnya? Entahlah...

Aku masih saja sering merasa ingin sesekali lepas dari kebenaran, meski bukan berarti benar-benar melakukan sebuah kesalahan. Hanya ingin sesekali melakukan sesuatu yang ‘kurang benar’, itu saja!
Nongkrong bersama-sama dengan rekan-rekan pejuang, penggiat ‘kebenaran’ versi kami, sambil ngepulkan asap rokok, yang melayang membumbung membawa angan dan cita kami ke langit tujuh.
Merokok bukanlah sebuah kebenaran di ‘bidang’ku, tentu saja! Aku sangat tahu itu! Tapi...

Kebenaran. Aku lebih suka membahasakan dengan kebaikan.
“semoga semua kebaikan, dan hanya kebaikan, melekat padamu sampai akhir...”
Demikian doa yang sering kudengungkan, kupostingkan, kutwitkan... pada rekan-rekanku.

Kudoakan selalu tentang 'kebaikan', bukannya 'kebenaran'. Benar-tidaknya aku tidak tahu, ato lebih tepat aku tidak peduli. Aku hanya ingin semua kebaikan selalu bersama dengan teman-temanku, rekan-rekanku, sobat-sobatku, yang ‘para pejuang’ menurutku.
Doa yang lebih sering sebagai sebuah pernyataan atas kekaguman pada kegigihan & kekonsistenan pada nilai-nilai yang diyakini sebagai sebuah kebenaran.

Kebaikan. Menurutku lebih mempunyai nilai, valuable, sebagai sebuah ‘sikap’ yang masih manusiawi. ‘kebenaran’ yang masih dalam batas-batas nilai kemanusiaan.

Apapunlah...
“semoga semua kebaikan, dan hanya kebaikan, melekat padamu sampai akhir...”


-ADL-

#Galau?

Bandara Soetta_Jakarta, 12 November 2011


galau?
pikirmu apa yang membuatmu tertampar sedemikian galau?
apakah laparmu?
hausmu?
atau cuman nyali cemen saja!

galau?
mau tau tentang galau?
coba dengarkan ini;
"ngapain nelpon, Ayah Ga pernah Ada di rumah..."

atau coba rasai dengan hatimu tentang ini;
"...kayak Ga punya ayah..."

itu galau!
itu sebenar galau!!!

#Surabaya

Bandara Soetta_Jakarta, 12 November 2011


Surabaya,
Apakah hujan menjadi milikmu hari ini?
Saat aku kerontang mengharap sejukmu

Raga telimpuh tergerus laga
Bersandar penuh bermandi peluh
Sesaat,
sebelum benar menjadi hilan

Pulang
Berharap benar sampai di pangkuan
Menitip resah meski tahu kau lelah

Rehat saja bila tak mampu

#kebiri

kemayoran_jakarta, 10 november 2011


mungkin bagimu aku masih saja harapan
mungkin...
sementara terkulai di sini beban bagimu

tingginya angan yang terlalu
membumbung harap yang berlebih
tak sepadan 

berjalan padamu meski tempatku
tak ingin membeban meski inginku telimpuh
hanya menumpulkan
mematikan

sekedar kabar menjadi sedemikian berat
pada akhirnya

#telimpuh

Kemayoran_Jakarta, 10 November 2011


Melemahnya tubuh yang terlalu sering saat-saat ini sudah tidak lebih membuat khawatir. Kejadian berulang yang justru menjadikannya serasa kejadian biasa, sangat biasa malah.
Kejadian yang seharusnya lebih bisa mendekatkan pada Sang Pemberi Nafas.

Tapi selalu saja jutaan alasan menjadi tabir tipis yang tak juga mampu tertembus hati kotor, sangat kotor.

Aku padaMu yaa Rabb... aku padaMu...

#demi ibu pertiwi...

taon 2010 kemaren emang taon nyang bener2 kudu kerja keras!
segala sesuatunya keseringan menjadi kejar tayang.
yah.. apa mau dikata, demi ibu pertiwi kataku!
dan temen yang ngakunya sohib terbahak2 mendengar alasanku

taon yang dalam 5 bulan terakhirnya hampir ga kenal hari libur... ga kenal hari minggu!
semua tanggal merah ditabrak demi ngejar deadline yang ga juga mau bergeming.
partner dari kementerian kesehatan pun ikutan pontang-panting mengimbangi gerakan litbangkes.

sampai saat momen paling menggelikan itu muncul...
hari selasa, tanggal 7 desember 2010... taon baru hijriah!
kita tetep kerja ngumpul di bekasi mulai hari minggu.

senin sore orang partner kita yang orang kementerian kesehatan nanya...

"besok libur kan?" tanyanya.
"nggaaaaak!" serempak kami menjawab.
"kejar tayang neh! kudu selese 2 hari lagi," sahut senior laennya.

dan sekonyong2 partner kita nyeletuk...

"hahhh! kek ga punya Tuhan aja... hari raya kok kerja!"

#Barangkali Rindu


barangkali rindu,
yang membuat kuat menahan kantuk, meski lelah dalam gelisah tak juga pernah lepas mengikat sebuah nama

barangkali rindu,
yang membuat segalanya seakan berhenti dan melambat dalam hitungan waktu yang tak juga jelas ujung pangkalnya

barangkali rindu,
yang membuat semua hal terasa begitu cepat berlalu seperti tenggelamnya bulan yang berlarian mengejar matahari

barangkali rindu,
yang membuat semuanya menjadi lebih ringan terjalani meski beban sarat memenuhi pundak letih

barangkali rindu,
yang membuat langkah terseok memberati langkah pada semua yang bukan tentang sebuah nama

barangkali rindu,
yang mematri semua kenangan sebagai sebuah indah yang di dalamnya tertulis hanya tentang sebuah nama

barangkali rindu,
yang membuat semua kenangan menghilang. semuanya adalah kekinian yang demikian berwarna saat bersamamu

barangkali rindu,
yang membuat kesempurnaan bukan sebagai milik, semuanya menjadi sebuah upaya pendakian kesempurnaan

barangkali rindu,
yang membuat semuanya terasa sempurna, tak lagi peduli meski berjalan dengan terseok, asal dalam genggaman satu nama

barangkali rindu,
yang membuat segala hal begitu aneh, begitu ajaib, begitu memilukan, begitu membuat tawa renyah, begitu membuat tersedu sedan, begitu naik turun, begitu melambungkan ke langit tujuh, begitu menghempaskan ke dasar tak berujung, begitu... ahh!

#mencibir nasib

Batam, pembuka November 2011


bersungut pada takdir
menjadikan setiap peritiwa sebagai tawa
yang selalu saja melekat
terpatri erat
tak terelakkan
sebagai sebuah ironi
padamu.


mencibir nasib sendiri
menerimanya sebagai badut berhidung merah
menyungging simpul di sudut senyum
tertawa ngakak
dengan bening mengembang di sudut mata
telimpuh.

#tentu saja!

Batam, 30 Oktober 2011


di sini. sepi saja. sendiri. menikmati kenangan setiap yang terlewat.
jatuh bangun. atau tegaknya keinginan saat mendaki puncak.
bersamamu. tentu saja.



seringkali asa tertinggal. di kelokan tajam.
dan bahkan pada saat seharusnya tidak.
tapi tetap saja. hangat rengkuh selalu menemani telimpuh.

sesaat menangis. sesaat menghiba.
menemu cinta. tetap saja. pada sebuah nama.
aku. padamu. tentu saja!

#SEPENGGALAN

Gunung Bintan_Tanjung Pinang, 28 Oktober 2011


Menghitung lagi,
Hari yang berharap tinggal sepenggalan,
sesa'at

Meski nyata hitungan batu masih saja berjajar
Meruah memenuhi hati sesak
Tapi... ahh biasa saja!
...dan bahkan dalam semua rasa sakitnya.

Bentangan kilometer masih saja mengakrabi,
Entah sampai kapan?
Bukannya ini pilihan?
Resiko dari sebuah pilihan

Sungguh, tak ingin tenggelam terjebak
Meski tetap saja...

Perih!

#SEPI

tulungagung, 26 mei 2011


terlalu sering timpang dalam setiap perjalanan. tertatih menjalani semua asa yang coba teraih.
selalu saja ada yang kurang. tak lengkap.
tak pernah lengkap.

menjalani sepi dalam setiap kilometer yang terlampaui. dalam setiap bengkahnya.
tak juga bisa mengalihkan. tak juga sanggup memasung tabir. meski sekedar.
meski hanya sekedar.

tatap lembut yang adalah pandang untukku. senyum tulus yang tak lekang dalam semua gundahmu.
wajah kasih yang adalah milikku.
yak benar... milikku!

untukmu yang memenuhi sepi. aku akan kembali.

"i love u..."

Batam, 31 Mei 2011


"i love u..." serak terasa saat kata itu meluncur dari leher yang tercekat
sepenggal kata...
yang lebih terasa seperti saat pertama kali terucap padamu
hanya kini lebih tersadari...
lebih menusuk dasar hati...

"i love u..." kukatakan sekali lagi
sebelum semuanya menjadi terlambat
sebelum aku...
ya! kukatakan sekali lagi

"i love u..."
lirih kubisikkan padamu
sebelum datangnya sebuah penyesalan
sebelum Sang Penyemat Cinta membisukan semuanya


"i love u... i love u... i love u..."

#ISYARAT?

hari ini lebih terasa dekatnya
terjerembab berkali dalam saat yang sama,
dalam tempat yang hanya sedikit bergeser.

mungkin memang hampir sampai detiknya,
hampir pada saatnya.

sebuah isyarat...
mungkin saja sebuah pertanda

siapkah?
tak akan pernah merasa siap
seberapapun waktu

hanya keikhlasan...
hanya keikhlasan...
semoga

#mati!

Menutup semua pintu hatiku
Mengunci setiap jendela
Tak memberi harapan pada setiap lubang


Mati!
Karna aku ingin kamu mati di dalam ku
Takkan kusisa waktu
Bahkan untuk sekedar berpaling

#TAK LAGI

Mataram, 29 April 2011

Birunya hati pagi ini tak lagi tentang banyaknya keinginan yang belum dan tak akan pernah bisa terpenuhi. Ianya lebih karena kelemahan yang berwujud pada kesadaran sebagai sebuah wayang yang jalannya sudah digariskan begitu saja, seberapapun berusaha.

Meski juga kewajiban sebagai wayang untuk tetap berusaha.

Tapi sungguh, kesadaran sebagai wayang begitu melegakan, begitu meluaskan hati, atas apapun hasil, sebagai akibat dan konsekuensi dari sebuah upaya yang bernama kerja keras.

Harapan hanyalah seonggok harapan, tak bisa beranjak dari semua ketentuan.

Keikhlasan, meski selalu saja tertulis dalam tinta emas sebagai sebuah pengakuan dan perwujudan atas ilmu paripurna, tetap saja lebih menjadi sebuah pepesan kosong sebagai sebuah sikap yang seringkali dilakonkan setiap wayang dengan setengah hati, dengan berlindung atas sebuah kata permisif, manusiawi.

Berharap tak lagi…
meski…

aahh…

#padaMu

menikmati saja yang diberikan dalam setiapnya. meski selalu saja keangkuhan seorang mahluk tak pernah sungguh-sungguh bisa lepas. hanya lepas dari pingsan sesaat, sementara selalu saja kembali berdiri pongah dalam keangkuhan.

ini mahlukMu... yang seringkali terlupa ada ketentuan, ada batasan, dalam dalam setiapnya.

tak bisa benar-benar menjalani semua perintahMu. tapi tetap saja... berharap penuh pada keMahaArifanMu.



kupang, jum'at pagi, 23 september 2011

#Keluh

Ranai_Natuna, 24 Oktober 2011


Menuntas jengah saat di tengah
Tak jua kunjung purna dalam gelisah
Aku padamu...
Seperti lalu dan juga Pada saat

Jengah menetap bukannya takdir
Meski berpura diam bukanlah sungguh
Meredam dengan sungguh apapun itu
...yang dinama rindu

#Takkah?

Ranai_Natuna, 24 Oktober 2011


Menemu jiwa pada sepi
Sebelah sedang tak berada
Galau rindu yang terlalu
Tak jua beringsut Pada nama

Lekang lelah berharap sua
Takkah menggenggam risau yang sama?


Takkah?

bersimpuh

dan lalu aku tersungkur mencium bumi...

menghambur syukur
telah digariskan bersamamu
i love you!

Saptakanda Ramayana

Hana sira Ratu dibya rēngőn, praçāsta ring rāt, musuhnira praṇata, jaya paṇdhita, ringaji kabèh, Sang Daçaratha, nāma tā moli


dan dia adalah rahwana…
seorang raksasa buruk rupa yang mencintai shinta

dan dia adalah rahwana…
yang dipaksa walmiki menjadi antagonis demi sebuah epos milik rama?

apa salahnya punya cinta?
apakah karena dia seorang buruk rupa, sehingga tak boleh punya cinta?
apakah karena dia seorang raksasa, sehingga tidak pantas untuk shinta?

dan dia adalah rahwana...
seorang ksatria perkasa yang berkalang tanah memeluk panah brahmāstra

tokek

heiii... suara apa itu?
suara tokekkah yang terdengar?
hmmm... terima kasih telah meramaikan sunyiku teman
heiii... kenapa berhenti?
ayolah bersuara lagi
jangan biarkan sepiku menggelayut kembali
jangan ngambek dong...
tadi cuman bercanda tidak mengenalimu
please... bersuaralah lagi
mau kau teruskan ngambekmu?
mau kau lanjutkan rajukmu?
baiklah... aku akan pergi
mungkin kau perlu waktu untuk sendiri...



surabaya, belakang perpustakaan unair kampus b, 28 oktober 2009

kerja sosial?

jangan pernah bilang perbuatan kita adalah 'sia-sia'
tidak ada yang pernah sia-sia dalam semuanya

setiap perbuatan ada maksudnya
setiap perbuatan punya jiwanya sendiri
setiap perbuatan akan ada hasilnya
setiap perbuatan akan menemui karmanya

setiap perbuatan adalah kerja
tidak pernah sekalipun sebuah perbuatan adalah 'kerja sosial'
setiap perbuatan tidak pernah mengenal kerja sosial
tidak ada istilah 'kerja sosial' dalam kamus perbuatan
setiap perbuatan adalah nyata

'kerja sosial'... bekerja tanpa ada perhitungan apa2...

... dan Allah berfirman tidak setitikpun perbuatan anak Adam yang luput dari perhitungan

masih mau mengatakan 'kerja sosial'?
masih tidak percaya dengan janji Allah???

...dan 'perbuatan'ku ini adalah bukti kecintaanku padamu
masih gak percaya juga??? nanti tak gigit lo kamu!!!

please...

Suatu saat saya ingin bertanya
Tapi tidak tau apa yang mau ditanyakan...

Suatu saat saya ingin menjawab
Tapi tidak tau apa pertanyaannya...

Suatu saat saya hanya ingin diam
Tapi... apa memang itu keinginan saya...

Please... don’t go...

Santet

Siapapun yang tinggal di belahan pertiwi ini pasti tau tentang santet atau minimal sudah pernah mendengarnya. Klo gak pernah dengar berarti kamu memang kuper, perlu sering2 keluar dari tempurung tempat ngendonmu.

Santet yang nama lainnya biasa dikenal sebagai tenung atau teluh adalah sebuah proses yang biasa bagi sebagian kita yang ada di pulo jawa khususnya. Bahkan sudah ada dalam bayangan orang2 bule.

Santet sebenarnya lebih merupakan proses dematerialisasi, dari benda padat (materi) menjadi energy, sehingga mudah untuk dimasukkan ke dalam tubuh (biasanya perut), dan merubahnya kembali menjadi materi setelah pindah ke dalam perut. sedang materi ato benda yang dikirim biasanya adalah benda2 tajam yang diharapkan efek merusak organ dalam tubuhnya lebih cepat. materi itu biasanya sejenis paku, silet, jarum, dsb.

Proses santet ini sangat mirip dengan gambaran orang barat dalam memvisualisasikan teleportasi dalam film startrek ketika awak pesawatnya dipindahkan dari luar pesawat ke dalam pesawat dan sebaliknya. Mudheng po ora? Ra mudheng yo karepmu.

Santet di daerah jawa timur sangat popular di daerah pesisir selatan, mulai dari pacitan, trenggalek, sampai ke banyuwangi. Santet dilakukan manusia dengan berkolaborasi dengan jin untuk dapat melakukan proses dematerialisasi tersebut. Kolaborasi dari manusia goblok dan jin sombong, klop!

Dalam perjalanannya proses pengiriman santet bisa dilihat dengan mata kepala manusia biasa. Mirip dengan bintang jatuh yang cemlorot dengan ketinggian tidak lebih dari rumah tiga tingkat.
Dalam perjalanannya bila proses pengiriman santet itu ketauan mata manusia lain, maka santet biasanya luruh dan gagal kirim. Tapi kondisi ini berlaku untuk dukun yang belon tinggi ilmunya. Untuk dukun santet yang sakti tidak akan keliatan, karena sinarnya lebih transparan.

Bila kamu sedang terjadi rebutan jabatan dan sebagainya yang bisa jadi kemungkinan rawan disantet, maka ada satu cara ampuh untuk menangkalnya. Cara itu adalah tidur di tanah atau lantai. Mengapa demikian? Santet adalah analogi dari energy listrik, yang bila di ground kan akan netral. Coba saja klo gak percaya! Paling2 resikonya cuman masuk angin, obatnya lebih gampang kan? Tinggak kerokan pake balsam cukup.

Beberapa benda yang dikirim ke perut lewat santet bisa terdeteksi oleh alat photo rotgen. Beberapa hasil jepretan itu bisa dilihat di museum kesehatan di jalan indrapura 17 surabaya. Klo gak percaya silahkan datang dan buktikan sendiri, di museum kesehatan ini juga ada koleksi peralatan santet yang dipajang.

Bukan gombal bila saya bilang saya sendiri pernah merasakan di santet. Tujuh hari panas dingin disertai batuk dan mutah darah, badan brasa hancur lebur tidak terkira. Dan ajaibnya… berat badan saya turun lima kilo dalam seminggu, suatu hal yang sangat sulit saya lakukan dalam keadaan yang biasa. bagaimanapun, saya harus bersyukur dan berterima kasih pada pengirim santet tersebut.

Jadi intinya adalah… bila kamu pengen kurus tapi berat untuk diet, cobalah resep ini.. minta temanmu mengirimkan santet untuk dirimu, lakukan sampai target turun berat badannya tercapai.
Bagaimana?
Berani ambil tantangan???

Kemarilah...

rasa kwangen ini membaur dalam rasa lapar yang menggerus lambung perih
rasa ini jauh lebih sakit dari lelehan asam lambung itu
lebih dalam, lebih besar, lebih perih..
rasa yang menggeliat memenuhi lelah lahir bathinku
sebagian besar tentangmu.. ah bukan!
semuanya tentangmu!

kendali mana tak terpegang, liar merobek semua sisi hati
setiap sudut dalam bayangmu, setiap dinding tersenyum simpul membisikkan namamu

datang saja penuhi hasratku
akan kuhantam setiap dinding yang menghalangi jalanmu
kemari saja sayangku...
tuntaskan rindu dendamku
akan kuremukkan sang waktu bila dia tak mau menunggu!

Aku yang tertahan…

Berniat menuju ke langit ketujuh…
Bersiap untuk tahu, memahami, merasai kesempurnaan sebagai mahluk
Berkeinginan untuk menumpahkan segala cinta pada Kekasih Sang Maha cinta
Oh Kekasihku Cintaku betapa kumerindukanMu

Rindu harus diwujudkan bukan?
Kusiapkan sayap-sayapku…
Kepak-kepak sayap kecil pun terkembang membesar sebesar yakinku akanMu
Kugelembungkan nyali sebesar biji sawi tiwikrama menjadi gunung menjulang memukul langit
Kurapikan hati berjajar hanya untuk menuju padaMu Kekasih sejatiku
Kubisikkan mantra memabukkan demi memuaskan madadku tentangMu
Ahh… betapa rindu dendam memenuhi hatiku akanMu

Sudahlah cukup basi-basi itu… berangkat saja sebelum terlambat!
Baiklah…
Kujejakkan kaki membentur bumi bertolak menjemput impianku tentangMu
Kepak sayap melebar terkembang penuh seiring gemuruh dzikirku mengenang kebesaranMu
Akulah sang pencinta… akulah sang perindu... yang tak kuasa membendung rasa padaMu
Melesat sekuat semburan gunung berapiMu… secepat putaran waktuMu
Tegak lurus menembus batas langit menggapai harap dalam asa cintaMu
Betapa memabukkan dalam harap akan limpahan rengkuh kasihMu

Langit pertama kusinggahi hanya untuk terus bertekuk lutut dalam kuasa cintaMu
Indah hamparan taman bunga dalam pandangan sabana maha luas
Kuasa cinta mana yang hendak kudustakan?
Merangkak naik enggan meninggalkan kenikmatan pertama yang sungguh melenakan
Membersit berkas syukur yang mememabukkan atas segala curah cintaMu Kekasih

Sayap seakan enggan terkembang… kepaknya pun lemah tergerak tak ingin berpaling
Ahh… perjalanan harus dilanjutkan bukan?
Proses harus dilalui… harus dijalani!
Langit kedua… aku akan datang!
Sambutlah sang pecinta dalam sebisa gegap gempitamu
*dengan setengah keinginan yang tertahan…

Gerbang langit kedua…
Tak perlu aku mengetuk pintumu bukan?
Aku adalah yang dirindukan, aku adalah yang dinanti… benarkah??
Heii… dimana penghunimu?
Ini aku yang datang! Sang pencinta!
Sepi…

Hmmm… terdengar bunyi air jatuh.. ah bukan! Air tertampar!
Sosok seorang dewi dalam genangan kolam surgawi… bidadarikah???
Sejuta tanya terkembang dalam degup jantung yang gegap gempita
Tidak lagi teringat akanMu…
Yang ada hanya rasa bergolak meretas dalam setiap aliran darah
Meracuni otak dengan segala bayang indah… bukan tentangMu

Dia tersenyum… ya Allah Kaulah Maha sempurna itu!
Luruh penat dalam diri yang membatu
Terbelit lidah kelu tiada yang terucap
Hanya mematung, berdiri dalam titik tak tergoyah
Tangan tengadah tersambut dalam genggam kuat tak terlepas
Masihkah ada langit ketujuh dibenakku?

Sayap terdiam isyarat sebuah jawab
Keinginan beranjak tak lagi kuat… tak lagi ada
Hanya terdiam disini merasai nikmatMu, luruh keinginan untuk menujuMu
Sayapku lemah terpatahkan…
Setiap helai bulunya berguguran dalam ritmis bisikan dzikir yang kokoh hanya sebagai sebuah kewajiban atasMu
Aku… sang pencinta, tertahan disini merasai setitik belas kasihMu
Aku yang tertahan…hiks…


Surabaya, 8 November 2009

KONSPIRASI PROVOKATOR

hari kesehatan nasional???
betapa banyak dari kita yang gak tau menau tentang hari kesehatan yang jatuh pada hari ini. jangankan masyarakat umum, orang kesehatan sendiri banyak yang nggak tau, pun orang kesehatan yang bekerja di dinas.
agak gatal aja melihat fenomenanya...
apapun... hal itu yang terjadi, so.. saya terpaksa posting lagi artikel ini yang sebelumnya sudah pernah tayang di blog health advocacy (www.health-adocacy.blogspot.com), semoga bisa diterima...
awas klo enggak!!!

***

Dalam suatu kesempatan diskusi tentang kebijakan via facebook, bu Evie Sopacua (AV) menekankan pentingnya ‘agenda setting’ dalam suatu proses/siklus policy analysis.
(siklus policy analysis menurut para pakar terdiri 3-4 tahapan; policy formulation, policy implementation, policy review/evaluation, dan satu lagi ada yang memasukkan agenda setting sebagai salah satu tambahan tahapan)

Boleh dong kalau saya punya pendapat lain.
Tidak ada salah benar dalam hal ini, kembali lagi ini merupakan masalah pilihan.
(kalo kurang sepakat juga gak apa-apa)

Menurut saya.., sekali lagi menurut saya!
Ada hal satu lagi yang jauh lebih penting yang justru berada di luar siklus policy analysis tersebut, yaitu isue atau masalah kebijakan.
Suatu kebijakan seharusnya dibuat atau dirumuskan berdasarkan permasalahan riil yang ada di masyarakat. Artinya, yang sudah benar-benar jadi perbincangan di masyarakat.

Yang hendak saya angkat adalah bukannya bagaimana merumuskan isu public, kalo untuk itu lebih baik anda baca buku saja, yang hendak saya paparkan adalah bagaimana kita berperan dalam sebuah isue publik.

***

Flu burung misalnya, atau flu babi akhir-akhir ini. Dapat dilihat bagaimana taktisnya kebijakan yang digariskan dan dijalankan oleh pemerintah dalam penanganan masalah ini.

Karena sudah menjadi perhatian publik, maka pemerintah benar-benar mencurahkan segala daya upaya untuk meredam masalah tersebut. Segala sumber daya dikerahkan, termasuk dana, yang hampir selalu merupakan kambing hitam di lapangan.

Korban meninggal flu burung sampai dengan saat ini mungkin cuman dalam hitungan puluhan atau paling banyak ratusan (total).

Bandingkan dengan AKI (Angka Kematian Ibu). Hasil survey rumah tangga yang dilakukan dalam SDKI (Survey Demografi Kesehatan Indonesia) pada tahun 2002/2003 menunjukkan angka 307/100.000 kelahiran hidup atau 20.000 per hari, berarti 50,5 per hari atau 2,1 per jam.
Lebih dari 2 ibu melahirkan mati setiap jamnya! Setiap jamnya! Bayangkan!!!!!!!
(tanda serunya tak kasih banyak biar keliatan bombastis dan anda benar-benar mau membayangkannya dalam benak anda).

Dari hasil itung-itungan epidemiologi mungkin dua kasus ini akan lain sudut pandangnya. Tapi point saya sedang tidak ke arah sana.

Point saya adalah dalam hal besaran korban, magnitude. Kasus flu burung dengan korban yang hanya beberapa dibanding dengan AKI, dengan korban yang sedemikian banyak, terjadi terus menerus, rutin, sekali lagi.. rutin!!! Setiap tahun!
Tapi apa yang berkembang di masyarakat?
Kematian ibu merupakan hal yang biasa, sangat biasa malah.
Dan petugas kesehatan (decision maker) pun menganggap kasus AKI bukan sesuatu yang urgent, yang butuh penanganan secara cepat.
(berita terbaru, berdasarkan hasil SDKI 2007 AKI sudah turun menjadi 228/100.000 kelahiran hidup, artinya setiap jam masih terdapat 1,55 ibu melahirkan yang meninggal dunia)

Apa yang bisa kita pelajari dari sini? Kasus flu burung bisa terselesaikan dengan cepat dan dengan penanganan yang komprehensif karena telah manjadi isue publik yang sangat dahsyat.
Hampir semua media massa memajang kasus ini setiap hari ketika sedang hangat-hangatnya.
Sedang kematian ibu…………………………………………………………..?????????

Saya sedang tidak ingin menyalahkan siapa-siapa! Media massa? Lha memang berita kematian ibu gak laku dijual, masyarakat gak tertarik untuk membacanya, berita basi!!!

Terus..? yang salah kita! Saya dan anda semua!
(tuh kan tetap aja cari kambing hitam, katanya gak mau nyalahkan siapa2).
Mengapa kita yang salah? Karena kita yang tidak mau berusaha menjadikan kasus kematian ibu sebagai masalah public. Kita tenang2 aja ketika Angka Kematian Ibu dilansir.
Kita hanya menganggap AKI tak lebih hanyalah sebuah indikator kesehatan.

Sudah sadarkah kita sekarang???!!!!??!
Selanjutnya apa yang harus kita lakukan?

Tulis! Tuliis!! Tuliiis!!! Tuliiiiis!!!!! Tuliiiiiiis!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
sebarkan pada masyarakat, kabarkan kepada dunia, kematian ibu juga sebuah masalah besar.
Dimana? Terserah… Koran terbit setiap hari, atau jaringan internet, facebook, blog apa saja.
(salut untuk Oriz Setiawan yang konsisten membawa kesehatan ke dunia luar).

Mari kita buat konspirasi besar untuk mengangkat kesehatan sebagai isue publik.
“Anda si fulan 1 nulis tentang kasus A dari sudut pandang atas, anda si fulan 2 menyangkalnya, tulis tentang kasus A dari sudut pandang bawah, dan anda si fulan 3 tidak bersepakat dengan fulan 1 dan 2, anda punya pandangan lain, tulis tentang kasus A dari sudut pandangan samping”.

Paham bro? mudeng opo ora pren?

Buat seakan kita bersebrangan satu sama lain, kita tidak sependapat, kita konfrontir semuanya di ruang publik. Pastikan masyarakat menyadari bahwa kasus yang kita angkat adalah sebuah masalah. Sambil melakukannya, kita berdo’a bersama-sama sambil berharap, kawan kita yang jadi decision maker telinganya tidak ditulikan, mulutnya tidak dibisukan, dan matanya tidak dibutakan dan mau berdiri bersama-sama dengan kita.

Bro…! tidak masalah anda sedang ada dimana, dalam posisi apa, staf puskesmas, dinas kesehatan, rumah sakit, atau tidak di bidang kesehatan sekalipun. Tubuh kita boleh terjebak dalam rutinitas pekerjaan, tapi otak kita jangan!
Mari lakukan semuanya berjama’ah! Jangan sendiri2!
Bebaskan pikiran, lepaskan imajinasi!
Mari kita jadikan diri kita provokator! Demi ibu pertiwi!!!!

Hujan

Banyaknya status dari teman FB yang bercerita tentang hujan membuat sangat ingin membuat sekedar catatan kecil yang berkaitan dengan hujan
Banyak kenangan yang tergores bersama dengan kata hujan, saat hujan, gerimis, dan lebatnya hujan… pun rasa yang terwakili bersama turunnya hujan. Ahh hujan…

Tapi saya setengah mati gak bisa melakukannya, bukan karena gak ada ide, bukan pula gak ada kesempatan buat nulis. Cuman karena di tempat saya berada saat ini betul2 belon turun hujan

Saat ini sahabat senyawa saya sedang mengharu biru dengan semua rasanya. Mellooooowww pwoolll…
Senyawa saya itu brasa kesurupan... nulis status puluhan dalam sehari, menuangkan semua rasa di hati terdalamnya dalam note yang beruntun seperti derasnya hujan, seperti proses pencernaan yang dipercepat katanya… yak seperti mencret yang tak tertahankan…

Senyawa saya yang cantik dan mengaku waria jerman itu memang sedang mengalami naik turun rasa yang sangat hebat. Dalam sehari bisa ngomong cinta, sayang, sekaligus benci, neg dan apapun yang dirasanya. Eh… ini yang membuat saya nyaman bersama dia, dia berusaha untuk jujur dengan semua yang dirasanya. Dia gak segan2 memaki saya dan bilang tolol ke saya saat saya keukeuh dengan ketololan saya. ahh... betapa saya ingin menamparnya...

Senyawa saya yang ini memang gila, asli gila… dan saya asli seneng untuk gila bersama dia!

Eh maap… jadi kelupaan soal hujannya..
Tapi ya itu tadi… saya pengen nulis soal hujan karena merasai rasa yang dirasa senyawa saya itu. Saya brasa betul2 mengharu biru melihat dia mencret… hiks!


*gerimis itu mewakili rasaku dalam rasamu yang membayang dalam tetes kilatan bening disudut mata belo’mu*

Pocong!

sudah lama saya memendam keingintahuan dan rasa penasaran dengan hantu satu ini... 'pocong'
kenapa harus 'pocong' sih?
kenapa adanya cuman di indonesia sih?
ato lebih tepatnya di jawa yak?
kenapa di eropa gak ada pocong?
di arab org mati juga dikafanin, kenapa gak ada pocong juga?
...sejuta pertanyaan menyeruak memenuhi isi kepala tentang hantu jawa ini

eh sebelum terlalu jauh..
emang hantu itu ada yak? maap.. bukannya apa2, karena saya sendiri lom pernah ketemuan
tapi ada temen saya yang ngaku pernah liat penampakan tuh pocong, dan dia takutnya minta ampun!
saya jadi agak bingung... emang harus takut yak?

baiklah... mari kita uraikan...
apa sih yang membuat seseorang harus takut dengan pocong?
apakah wajahnya serem abis?
apa pocong bisa membunuh?
apa klo ketemu pocong jadi miskin, bodoh, ato jadi tambah jelek?
apa dong???
jangan2 kita cuman takut karena pikiran kita sendiri... ato emang iya? hihihi..

pocong pan terbungkus kain kafan... klo dibuka tuh kain kafan di dalemnya ada paan yak?
dulu... pas saya masih kecil, pernah diberitau... klo ketemu pocong jangan lari, tarik tuh tali pocong yang diatas... katanya, bisa keluar harta karunnya dari tubuh tuh pocong! setan mampus, emang bisa begitu???

eh dulu pan pernah ada tuh pilem si warkop dki yang ada pocongnya... klo gak salah sih pilem setan kredit, tul gak ya? nah di dalem tuh pilem pocong tampil kocak abis, so kenapa takut... ho oh kan?

nggak deh... please share deh buat kalian yg pernah liat tuh pocong, ato pernah denger ada org mati dicekik pocong, ato apapun lah yg syerem terkait pocong.

Andai bisa bersyukur...

Malam telah larut..
mencoba membuka kembali
lembaran..
halaman…
ingatan..
perjalanan..


mencoba berpikir jernih


Ufff.. minggu yang hebat!
terima kasih telah Kau ijinkan


mensyukuri apa yang telah diberi
mensyukuri apa yang tidak diberi
mensyukuri apa yang ditahan
mensyukuri apa yang ditunda
mensyukuri karena boleh dan bisa bersyukur


terima kasih atas semuanya
atas apa yang kumiliki
dan tidak kumiliki!

malam ini

kamu tahu sayang...
malam ini aku akan membisikkan do'a kita

tidak!

tidak akan kutitipkan pd hembusan angin...
aku sendiri yg akan datang
membisikkannya di telingamu
menjagaimu sampai terlelap

tidak!

tidak usah bermimpi tentang kita!
karena aku akan ada...
disampingmu!

Semplah…



Terjadi begitu saja…
Phusss… seperti kentut yang tertiup angin
Hanya hampa… kosong… melompong!
Brasa semplah sebelah sayap…

Telimpuh… lumpuh… sampai sayap terobati! atau… sampai sayap tak melekat lagi!

janji bagaskara!


matahari telah berjanji padaku…
untuk terbit pagi ini... untuk tetap bersinar!
meski awan menggantung serupa bayangan kelam...
sang bayu akan datang... meminggirkan setiap rintangan
meski setitik...

menemani setiap langkahku, menyertai setiap perjalanan, memenuhi setiap keinginan...

hingga nanti…
saat rembang petang menjelang
saat rembulan berjanji akan datang…
saat purnama menggantikan tugas sang bagaskara
menemaniku…

dengan sepenuh harapan…
dengan segunung asa yang membuncah…
semoga… jemuran cepat kering!

perjalanan panjang

tidak semua rencana bisa dijalankan, tidak semua keinginan bisa terpenuhi…
kesempurnaan… yang berusaha kita raih, mungkin bukan milik kita. meski kita telah berjanji untuk meraihnya! janji itu yang membuat kita harus selalu berusaha untuk terus mencapainya

perjalanan masih sangat jauh… sakit, perih, tertatih, berdarah-darah...
beribu sakit lagi yang akan mendera, berjuta perih lagi yang akan mengiris…
mau berhenti disini?

mungkin kita tidak tahu indah terselip dalam sakit yang kita rasakan, mungkin kita terlupa kebersamaan terbangun saat perih menghajar rasa, mungkin juga kita tidak menyadari betapa sayatan panjang luka membekas yang membuat kita kuat menantikan terbitnya matahari esok hari



bekas sayatan itu yang akan mengingatkan kita, goresan jaringan parut itu yang tak akan membuat kita lupa... ribuan kali kejatuhan yang telah kita alami


perjalanan ini yang menjadikan semuanya indah... pada akhirnya!

inginmu


"ingin bersamamu...," katamu
sedang aku cuman terdiam... menghitung putaran waktu, berapa putaran yang terlewat, berapa putaran lagi yang tersisa... tinggal bilangan detik!

kamu terduduk lemas, terkulai dalam beban yang sarat...
"tinggalah disini," pintamu
ahh... seandainya waktu milik kita! seandainya putaran nasib ada di tangan kita! seandainya waktu bisa kembali!

"aku tidak ingin yang lainnya," rintihmu pelan dalam nada sumbang perih

...dan aku tetap terdiam, tak kuasa atas janji... bahkan pada diriku sendiri!

sundel bolong

Kebangun di tengah malam dan yang teringat adalah hantu jadi2an jenis yang satu ini… sundel bolong! Kenapa juga kok hari jum’at malem sabtu, pan seharusnya malem jum’at yak? Hihihi…

Hantu jadi2an jenis yang satu ini identik dengan wanita cantik, berambut panjang, mata bisa melotot, berkulit putih, suka pake baju putih, hmmm… ciri lainnya pa’an yak?
Jadi… untuk kamu para cewek yang tidak merasa cantik, gak usah takut.. kamu bukanlah kandidat untuk jenis hantu yang ini. hal ini juga berlaku untuk kamu yang males untuk miara rambut, karena jenis hantu yang satu ini mempunyai syarat pantatnya serambut.. eh sorry, rambutnya sepantat. Jadi klo gak mau jadi kandidat, musti potong rambut cepak gaya demi moore gitu..
Kandidat laen yang bakal ditolak adalah dari etnis tionghoa ato minimal yang sipit kayak saya! Hihihi… soale susyah untuk disuruh melotot!
Juga untuk yang kulitnya item kayak saya, gak bakalan deh bisa jadi hantu cantik ini!

Tapi… apa memang betul sih ada jenis jejadian macem yang ini? perasaan dari dulu gembar-gembor tapi yang ada cuman di pelem. Betul nggak sih???
Trus apa bedanya yak dengan mbak kunti, itu tuh.. si kuntilanak! Pan sama2 bergenre perempuan cwantek. Hihihi…
Seumur2 saya lom pernah ketemuan ama yang beginian. Entah hantunya takut ketemu saya, ato malah jijay ngeliat saya. Bwakakak…! Tapi asli emang lom pernah ketemu! Seumur2!
Jadi boleh dong saya meragukan eksistensinya!

Satu lagi nih! Bila memang hantu ini cwantek… kenapa orang pada takut? Harusnya kan seneng? Iya nggak sih? hihihi… jadi nggak yakin…
Pada dasarnya saya bukan jenis orang pemberani, tapi klo ketemu hantu cwantek kan lain… bwakakak…

setan lu!

suroboyoan; kalah cacak, menang cacak!

‘kalah cacak, menang cacak’...
sebuah idiom bahasa suroboyoan yang mengajarkan kita untuk tidak jadi seorang pengecut!

‘cacak’ dalam bahasa indonesia berarti ‘mencoba’ .
Makna bebas idiom tersebut adalah ‘kalah pernah mencoba, menang pun pernah mencoba’.
Artinya, arek suroboyo tidak diajarkan untuk jadi pengecut, yang mundur sebelum pernah mencoba.
Kalah atau menang adalah nomor sekian, yang penting kita sudah pernah mencoba,
sudah pernah berusaha... apapun hasilnya!

Masih mau mundur???

Cinta tolol (2)

sakit hati krn cinta, putus cinta, cinta ditolak... semua sah2 saja, dan pada akhirnya itu yang akan mendewasakan kita! Itu yang membuat kita tumbuh…

Satu dua hari merasai sakit perihnya cinta.. it’s okay! Itu suatu hal yang normal
Mengenang cinta yang tlah lewat juga bukan sebuah dosa, tapi jangan berlarut dalam ketololan yang sama! Sekedar saja… merasai perjalanan yang telah terlewati, dalam semua pahit manisnya…

Cinta pun juga membutuhkan pengorbanan!
Peluh, air mata, darah… apapun rela dikorbankan dalam ketulusan cinta. Itu bukan ketololan… itu keteguhan.
Tapi tetep aja… jangan teguh dalam ketololan!

Klo kamu berlarut merasai sakitnya ‘menderita’ karena cinta, hanya kamu yang bisa menghentikan ‘penderitaan’mu itu. Tidak orang lain… tidak orang yang kamu cintai!
Hanya kamu, itu pilihanmu!
Masih mau tolol!!!


klo masih berlarut2 dalam ketololan yang sama merasai perihnya patah hati?
klo 'berhenti' melangkah hanya karena tolol memaknai cinta?
Tak perlu minta ijinmu…
atas nama persahabatan aku akan langsung menamparmu!
Aku pastikan itu!!!

Cinta tolol


Cinta itu vitamin! Yak.. bener vitamin…
Vitamin untuk melengkapi hidup, ato justru malah hidup itu sendiri
Apapun lah… yang penting cinta itu penting! Iya nggak sih???

Cinta seharusnya merupakan sebuah katalis, yang merangsang peningkatan energy untuk membangun… untuk menjadi lebih baik.
cinta lah yang membuat dunia tetep berjalan. cinta juga yang katanya membuat tai kucing rasa coklat!

Cobain deh klo gak percaya!
Klo aku sih percaya aja… daripada disuruh nyobain!


***
Tapi klo karena cinta trus membuat kita merana tujuh turunan,
Menjadikan kita terus berkutat dengan rasa tolol,
Membikin kita menghiba bak kerbo dicocok cingurnya,
membuat kita berhenti ‘hidup’, dan sama sekali tidak membuat kita lebih baik…
itu bukan cinta!!!
Pikir lagi deh…

Kita tidak diberi pilihan untuk lahir dan hidup…
Tapi mau hidup tolol ato jenius… itu pilihan!
jadi klo lo lebih milih tolol dalam cinta… nahhhh! Itu pilihan tolol lo sendiri!

suroboyoan; gresik-suroboyo, kalah dhisik ojok ngresulo!

'gresik-suroboyo, kalah dhisik ojok ngresulo...'
sebuah idiom bahasa suroboyoan yang lebih mirip pantun ini mengajarkan kita untuk tidak gampang mengeluh...ngresulo!

makna bebas dari idiom ini adalah 'kalo kalah cepat untuk mendapatkan sesuatu, maka jangan mengeluh'
artinya, arek suroboyo kalo mau berhasil ya harus berusaha, harus lebih cepat, harus bisa mendahului yang lain

idiom ini lebih sering dipake untuk nyemoni ato ngejek teman yang bersama2 dengan kita dalam memperebutkan sesuatu, dan ternyata kita yang berhasil mendapatkannya, maka kita yang 'berhak' mengeluarkan kata2 ini, dan yang lainnya harus legowo... tidak boleh ngresulo

bijimane? no boleh ngresulo yak!

e book 4 free; STANDAR PELAYANAN MINIMAL KESEHATAN, Sebuah Panduan Formulasi di Tingkat Puskesmas/Kecamatan

by
AGUNG DWI LAKSONO
EVIE SOPACUA
SUHARMIATI
LESTARI HANDAYANI
RISTRINI
HERTI MARYANI
BAMBANG WASITO

Diterbitkan oleh;

Health Advocacy
Yayasan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat

Bekerja sama dengan;

PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN, KEMENTERIAN KESEHATAN RI

96 halaman
1.022 bytes


PENGANTAR

Dalam era desentralisasi, penggunaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagai tolok ukur kinerja menjadi sebuah keniscayaan. Akuntabilitas adalah sebuah syarat mutlak yang memaksa kita untuk mau tidak mau mengimplementasikannya dalam sebuah pelayanan publik, tidak terkecuali pelayanan kesehatan di dalamnya.
Di dalam sebuah negara besar seperti Indonesia, dengan tingginya tingkat variabilitas antar daerah sesungguhnya diperlukan sebuah SPM yang juga spesifik lokal. Penerbitan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1457/Menkes/ Sk/X/2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota sebenarnya sebuah langkah maju dalam upaya akuntabilitas kinerja pelayanan publik.
Penerbitan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 741/MENKES/PER/VII/ 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/ Kota yang menganulir kebijakan sebelumnya juga sebenarnya sangat produktif. Karena kebijakan terbaru tentang SPM Kesehatan ini lebih menyederhanakan indikator kinerja di bidang pelayanan kesehatan.
Kekurangan dari ke-dua kebijakan ini adalah tidak mengadopsi tingkat variabilitas yang tinggi antar wilayah. Untuk itu maka buku ini ditulis. Meski juga buku ini tidak untuk membagi peran yang lebih adil antar kabupaten/kota, tapi lebih ditekankan pada pembagian peran antar puskesmas/kecamatan dalam satu wilayah kabupaten/kota dengan pertimbangan input (sarana & prasarana, sumber daya tenaga kesehatan, dan besaran alokasi anggaran bidang kesehatan) dan target.
Harapan yang tinggi agar buku ini bisa operasional di lapangan, untuk itu masih berharap kritik membangun untuk perbaikan ke depan.

Untuk Indonesia yang lebih baik!

klo menginginkan buku ini... tinggal kirim alamat email di kolom komen!

Facebook dan Tempat Sampah

Facebook!

Sebuah fenomena jejaring yang bener2 sosial...
Meski pada akhirnya facebook hampir menjadi lebih mirip tempat sampah!
Orang ngedumel dan bahkan mengumpat pun di-publish di wall facebook... bener nggaaaak!!!
Hanya beberapa saja yang benar2 memanfaatkan untuk berjejaring... sharing yang bukan hanya melulu ngedumel ‘n memaki! Sharing nyang bener2 sharing

Mungkin emang lebih puas bila memaki di facebook! Lebih banyak yang tau, lebih banyak yang perhati'in
... dan semakin banyak yang komen, semakin pula kita menggebu menjelaskan ‘makian’ kita!
Dan akhirnya bentuk makian menjadi juaoh lebih rinci bin juelas...

***

Sampeyan mungkin pernah dengar soal amal jariyah?
Amal yang pahalanya ga putus2...
yaitu... Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh! Lalu apa hubungannya dengan makian?

Pertama... Sampeyan percaya nggak memaki ntu dosa?
Naahhh...
Klo kita memaki dengan lisan, maka dosanya sekali saja,
hanya pada saat diucapkan...

Nah klo memakinya di wall facebook?
Berapa lama makian ntu tayang?
Berapa banyak makian tambahan untuk memperjelas status makian sampeyan?
Berapa banyak orang yang membaca makian sampeyan?
Berapa banyak orang yang juga meng’amin’i makian sampeyan?

Sadar nggak sih?

Sayanya sih kuatir aja!
Klo ternyata malaikat mencatat makian sampeyan!
dan ternyata dikategorikan sebagai ‘dosa jariyah’...
weww...pan berabe!

Hehehe...

demi ibu pertiwi...

taon 2010 kemaren emang taon nyang bener2 kudu kerja keras!
segala sesuatunya keseringan menjadi kejar tayang.
yah.. apa mau dikata, demi ibu pertiwi kataku!
dan temen yang ngakunya sohib terbahak2 mendengar alasanku
taon yang dalam 5 bulan terakhirnya hampir ga kenal hari libur... ga kenal hari minggu!
semua tanggal merah ditabrak demi ngejar deadline yang ga juga mau bergeming.
partner dari kementerian kesehatan pun ikutan pontang-panting mengimbangi gerakan litbangkes.

sampai saat momen paling menggelikan itu muncul...
hari selasa, tanggal 7 desember 2010... taon baru hijriah!
kita tetep kerja ngumpul di bekasi mulai hari minggu.
senin sore orang partner kita yang orang kementerian kesehatan nanya...

"besok libur kan?" tanyanya.
"nggaaaaak!" serempak kami menjawab.
"kejar tayang neh! kudu selese 2 hari lagi," sahut senior laennya.

dan sekonyong2 partner kita nyeletuk...

"hahhh! kek ga punya Tuhan aja... hari raya kok kerja!"

Universal Coverage???

Dear all,

ijin curhat...

Saya pada akhirnya menjadi ragu dengan penerapan universal coverage pada saat ini, meski sebelumnya saya sangat berapi2 berharap agar dilakukan percepatan penerapan universal coverage. Sikap baru ini muncul setelah melihat sendiri pelayanan kesehatan di Kabupaten Raja Ampat-Papua Barat yang bukan tidak mungkin hal yang sama terjadi belahan pertiwi lainnya.

Raja Ampat, merupakan kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Sorong.

Sebagai sebuah tujuan wisata bawah air, Raja Ampat merupakan sepuluh besar terbaik dunia. Lebih dari dua pertiga populasi bawah air dunia ada di kabupaten kepulauan ini. Indah.. memang terbukti sangat indah seluruh wilayah kepulauan ini, sehingga layak dijuluki sebagai surga bahari!

Datang pertama kali di pusat pemerintahan Kabupaten Raja Ampat di Waisai di pulau Waigeo tak terbayangkan bahwa sama sekali bahwa tak ada sambungan telepon kabel di seluruh wilayah kabupaten. Kebayang tidak???

Kata petugas di dinas kesehatan ada dua nomor faximile di kantor bupati, jadi kalo mau kirim kabar ke dinas kesehatan bisa nge-fax ke kantor bupati, nantinya orang kantor bupati yang akan menyampaikan ke dinas kesehatan. Dan yang diluar dugaan setelah saya diberi nomor fax tersebut… kode areanya Kota Makassar. Kok bisaa??? Kok bukan Kota Sorong??? Entahlah…

Kabupaten baru ini terdiri dari 610 pulau. Empat di antaranya, yakni Pulau Misool, Salawati, Batanta dan Waigeo, yang merupakan pulau-pulau besar. Dari seluruh pulau hanya 35 pulau yang berpenghuni sedangkan pulau lainnya tidak berpenghuni dan sebagian besar belum memiliki nama.

Pulau2 kecil banyak yang berpenghuni hanya puluhan jiwa saja, yang kebanyakan bermata pencaharian sebagai nelayan. Dan tentu saja transportasi antar pulau tidak ada pilihan selain angkutan laut.

Saya sempat mampir ke salah satu pulau yang dihuni tak lebih dari 30-40 jiwa, yang seluruhnya nelayan. Sama sekali tidak ada fasilitas umum di pulau tersebut. Untuk mencapai daratannya yang berupa tebing saja saya harus memanjat tangga2 bambu yang cukup tinggi. Rumah kebanyakan dari bahan bambu, dengan ukuran tak lebih dari 6x8 yang dihuni belasan jiwa. Yak belasan jiwa! Karna memang hanya ada tiga rumah di pulau itu.

Pelayanan kesehatan??? Setelah saya konfirmasi ke dinas kesehatan, puskesmas mengembangkan pelayanan puskesmas terapung untuk menjangkau pulau2 kecil tersebut. Dengan keterbatasan biaya maka frekuensinya sekali sebulan.

Jadi kalo sakit pas saat abis ada kunjungan puskesmas ya harus sabar nunggu kunjungan bulan berikutnya.

Pengembangan pelayanan puskesmas terapung inipun bisa berjalan setelah ada Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang bisa dimanfaatkan untuk beli bahan bakar. Bahan bakar memang sangat menentukan. Di kabupaten ini baru saja didirikan POM bensin, yang seringkali kehabisan stok. POM bensin satu2nya di kabupaten ini.

Rumah Sakit??? Yak.. sudah ada satu RS di Kabupaten Raja Ampat, yang meski dengan fasilitas minimal sudah bisa beroperasi. Tapiiii… UTD-RS (unit transfusi darah-rumah sakit) baru dibentuk saat ini, jadi belum bisa beroperasi. Kalau ada yang sakit dan butuh darah, silahkan dirujuk ke Kota Sorong, dengan sewa boat 7-8 juta pulang pergi, ini masih biaya ‘beyond health’nya, belum benar2 biaya berobatnya.

Jadi… bila benar universal coverage diberlakukan, apa pengaruhnya untuk mereka? Karna pelayanannya memang kurang atau bahkan tidak ada.

…dan kita yang membaca ini, yang di sini… apa ya pantas mengeluh???


-ADL-