Seorang
lelaki dan keangkuhannya. Kembali terjengkang menawar takdir yang
ditulisnya sendiri. Merintih meratapi jalan yang benar harus dilaluinya.
Sakit, tentu saja!
Jalan kesendirian dalam bingarnya kehidupan harus kembali diterjang dengan tubuhnya yang semakin ringkih. Terjengkang berkali harus dilewati untuk menjadi berani. Meski selalu saja, melemahkan hati.
Lelaki dengan keangkuhannya. Tunduk rebah kepada Sang Pembolak-balik Hati. Tak ada lagi yang tersisa dari tegaknya sebuah keinginan selain hanya kembali. Terima nasib yang mencabiknya demi sebongkah hati.
Sekali lagi menempuh jalan Ibrahim yang terlalu lama tergeser keangkuhan. Bukannya sekali, ianya berkali.
Tuhan, masih saja merentangkan tanganNya. Penuh!
Ibrahim bukannya tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi ianya selalu saja kembali.
Seorang lelaki dan keangkuhannya, memegang kembali sebuah yakin yang digenggamnya penuh.
Kali ini, tanpa keangkuhan yang telah diambil kembali Sang Pemilik Angkuh.
Jalan berduri dan berkerikil tajam adalah jalanmu untuk kembali!
Maharadja Hotel_Jakarta, 29 Desember 2011
Jalan kesendirian dalam bingarnya kehidupan harus kembali diterjang dengan tubuhnya yang semakin ringkih. Terjengkang berkali harus dilewati untuk menjadi berani. Meski selalu saja, melemahkan hati.
Lelaki dengan keangkuhannya. Tunduk rebah kepada Sang Pembolak-balik Hati. Tak ada lagi yang tersisa dari tegaknya sebuah keinginan selain hanya kembali. Terima nasib yang mencabiknya demi sebongkah hati.
Sekali lagi menempuh jalan Ibrahim yang terlalu lama tergeser keangkuhan. Bukannya sekali, ianya berkali.
Tuhan, masih saja merentangkan tanganNya. Penuh!
Ibrahim bukannya tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi ianya selalu saja kembali.
Seorang lelaki dan keangkuhannya, memegang kembali sebuah yakin yang digenggamnya penuh.
Kali ini, tanpa keangkuhan yang telah diambil kembali Sang Pemilik Angkuh.
Jalan berduri dan berkerikil tajam adalah jalanmu untuk kembali!
Maharadja Hotel_Jakarta, 29 Desember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar