Bunda. Berkali sikap dan tindak ini menyakiti hati dan rasamu. Berkali selalu saja ma’afmu mencurah penuh untuk itu.
Bunda. Berkali engkau menangis karena sikap pongahku. Berkali selalu saja kau sedia pangkuan yang selalu saja menenang keangkuhanku.
Bunda. Berkali tubuhmu tercabik sinisme egoku. Berkali selalu saja kau ikhlaskan untuk selalu bisa mendukungku.
Bunda. Berkali sakit, dera dan semua yang bernama lain kesedihan memenuhi hari-harimu. Berkali selalu saja tanganmu terkembang menerimaku apa adanya.
Bunda. Tiada seorang di dunia ini yang mendapat panggilan bunda dari bibirku selainmu. Kerna padamu menemu kedamaian yang mampu mendinginkan angkuhku.
Maharadja Hotel_Jakarta, 29 Desember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar