Kebenaran. Apa sebenarnya kebenaran? Terdengar sangat idealis bagiku.
Setia pada kebenaran? Dari awal sampai akhir? Entahlah...
Seringkali aku hanya merasa bahwa kebenaran hanyalah tujuan akhir.
Bagaimana dengan prosesnya? Entahlah...
Aku masih saja sering merasa ingin sesekali lepas dari kebenaran, meski bukan berarti benar-benar melakukan sebuah kesalahan. Hanya ingin sesekali melakukan sesuatu yang ‘kurang benar’, itu saja!
Nongkrong bersama-sama dengan rekan-rekan pejuang, penggiat ‘kebenaran’ versi kami, sambil ngepulkan asap rokok, yang melayang membumbung membawa angan dan cita kami ke langit tujuh.
Merokok bukanlah sebuah kebenaran di ‘bidang’ku, tentu saja! Aku sangat tahu itu! Tapi...
Kebenaran. Aku lebih suka membahasakan dengan kebaikan.
“semoga semua kebaikan, dan hanya kebaikan, melekat padamu sampai akhir...”
Demikian doa yang sering kudengungkan, kupostingkan, kutwitkan... pada rekan-rekanku.Kudoakan selalu tentang 'kebaikan', bukannya 'kebenaran'. Benar-tidaknya aku tidak tahu, ato lebih tepat aku tidak peduli. Aku hanya ingin semua kebaikan selalu bersama dengan teman-temanku, rekan-rekanku, sobat-sobatku, yang ‘para pejuang’ menurutku.
Doa yang lebih sering sebagai sebuah pernyataan atas kekaguman pada kegigihan & kekonsistenan pada nilai-nilai yang diyakini sebagai sebuah kebenaran.
Kebaikan. Menurutku lebih mempunyai nilai, valuable, sebagai sebuah ‘sikap’ yang masih manusiawi. ‘kebenaran’ yang masih dalam batas-batas nilai kemanusiaan.
Apapunlah...
“semoga semua kebaikan, dan hanya kebaikan, melekat padamu sampai akhir...”
-ADL-

