#Kebenaran

Indrapura_Surabaya, 14 November 2011


Kebenaran. Apa sebenarnya kebenaran? Terdengar sangat idealis bagiku.
Setia pada kebenaran? Dari awal sampai akhir? Entahlah...

Seringkali aku hanya merasa bahwa kebenaran hanyalah tujuan akhir.
Bagaimana dengan prosesnya? Entahlah...

Aku masih saja sering merasa ingin sesekali lepas dari kebenaran, meski bukan berarti benar-benar melakukan sebuah kesalahan. Hanya ingin sesekali melakukan sesuatu yang ‘kurang benar’, itu saja!
Nongkrong bersama-sama dengan rekan-rekan pejuang, penggiat ‘kebenaran’ versi kami, sambil ngepulkan asap rokok, yang melayang membumbung membawa angan dan cita kami ke langit tujuh.
Merokok bukanlah sebuah kebenaran di ‘bidang’ku, tentu saja! Aku sangat tahu itu! Tapi...

Kebenaran. Aku lebih suka membahasakan dengan kebaikan.
“semoga semua kebaikan, dan hanya kebaikan, melekat padamu sampai akhir...”
Demikian doa yang sering kudengungkan, kupostingkan, kutwitkan... pada rekan-rekanku.

Kudoakan selalu tentang 'kebaikan', bukannya 'kebenaran'. Benar-tidaknya aku tidak tahu, ato lebih tepat aku tidak peduli. Aku hanya ingin semua kebaikan selalu bersama dengan teman-temanku, rekan-rekanku, sobat-sobatku, yang ‘para pejuang’ menurutku.
Doa yang lebih sering sebagai sebuah pernyataan atas kekaguman pada kegigihan & kekonsistenan pada nilai-nilai yang diyakini sebagai sebuah kebenaran.

Kebaikan. Menurutku lebih mempunyai nilai, valuable, sebagai sebuah ‘sikap’ yang masih manusiawi. ‘kebenaran’ yang masih dalam batas-batas nilai kemanusiaan.

Apapunlah...
“semoga semua kebaikan, dan hanya kebaikan, melekat padamu sampai akhir...”


-ADL-

#Galau?

Bandara Soetta_Jakarta, 12 November 2011


galau?
pikirmu apa yang membuatmu tertampar sedemikian galau?
apakah laparmu?
hausmu?
atau cuman nyali cemen saja!

galau?
mau tau tentang galau?
coba dengarkan ini;
"ngapain nelpon, Ayah Ga pernah Ada di rumah..."

atau coba rasai dengan hatimu tentang ini;
"...kayak Ga punya ayah..."

itu galau!
itu sebenar galau!!!

#Surabaya

Bandara Soetta_Jakarta, 12 November 2011


Surabaya,
Apakah hujan menjadi milikmu hari ini?
Saat aku kerontang mengharap sejukmu

Raga telimpuh tergerus laga
Bersandar penuh bermandi peluh
Sesaat,
sebelum benar menjadi hilan

Pulang
Berharap benar sampai di pangkuan
Menitip resah meski tahu kau lelah

Rehat saja bila tak mampu

#kebiri

kemayoran_jakarta, 10 november 2011


mungkin bagimu aku masih saja harapan
mungkin...
sementara terkulai di sini beban bagimu

tingginya angan yang terlalu
membumbung harap yang berlebih
tak sepadan 

berjalan padamu meski tempatku
tak ingin membeban meski inginku telimpuh
hanya menumpulkan
mematikan

sekedar kabar menjadi sedemikian berat
pada akhirnya

#telimpuh

Kemayoran_Jakarta, 10 November 2011


Melemahnya tubuh yang terlalu sering saat-saat ini sudah tidak lebih membuat khawatir. Kejadian berulang yang justru menjadikannya serasa kejadian biasa, sangat biasa malah.
Kejadian yang seharusnya lebih bisa mendekatkan pada Sang Pemberi Nafas.

Tapi selalu saja jutaan alasan menjadi tabir tipis yang tak juga mampu tertembus hati kotor, sangat kotor.

Aku padaMu yaa Rabb... aku padaMu...

#demi ibu pertiwi...

taon 2010 kemaren emang taon nyang bener2 kudu kerja keras!
segala sesuatunya keseringan menjadi kejar tayang.
yah.. apa mau dikata, demi ibu pertiwi kataku!
dan temen yang ngakunya sohib terbahak2 mendengar alasanku

taon yang dalam 5 bulan terakhirnya hampir ga kenal hari libur... ga kenal hari minggu!
semua tanggal merah ditabrak demi ngejar deadline yang ga juga mau bergeming.
partner dari kementerian kesehatan pun ikutan pontang-panting mengimbangi gerakan litbangkes.

sampai saat momen paling menggelikan itu muncul...
hari selasa, tanggal 7 desember 2010... taon baru hijriah!
kita tetep kerja ngumpul di bekasi mulai hari minggu.

senin sore orang partner kita yang orang kementerian kesehatan nanya...

"besok libur kan?" tanyanya.
"nggaaaaak!" serempak kami menjawab.
"kejar tayang neh! kudu selese 2 hari lagi," sahut senior laennya.

dan sekonyong2 partner kita nyeletuk...

"hahhh! kek ga punya Tuhan aja... hari raya kok kerja!"

#Barangkali Rindu


barangkali rindu,
yang membuat kuat menahan kantuk, meski lelah dalam gelisah tak juga pernah lepas mengikat sebuah nama

barangkali rindu,
yang membuat segalanya seakan berhenti dan melambat dalam hitungan waktu yang tak juga jelas ujung pangkalnya

barangkali rindu,
yang membuat semua hal terasa begitu cepat berlalu seperti tenggelamnya bulan yang berlarian mengejar matahari

barangkali rindu,
yang membuat semuanya menjadi lebih ringan terjalani meski beban sarat memenuhi pundak letih

barangkali rindu,
yang membuat langkah terseok memberati langkah pada semua yang bukan tentang sebuah nama

barangkali rindu,
yang mematri semua kenangan sebagai sebuah indah yang di dalamnya tertulis hanya tentang sebuah nama

barangkali rindu,
yang membuat semua kenangan menghilang. semuanya adalah kekinian yang demikian berwarna saat bersamamu

barangkali rindu,
yang membuat kesempurnaan bukan sebagai milik, semuanya menjadi sebuah upaya pendakian kesempurnaan

barangkali rindu,
yang membuat semuanya terasa sempurna, tak lagi peduli meski berjalan dengan terseok, asal dalam genggaman satu nama

barangkali rindu,
yang membuat segala hal begitu aneh, begitu ajaib, begitu memilukan, begitu membuat tawa renyah, begitu membuat tersedu sedan, begitu naik turun, begitu melambungkan ke langit tujuh, begitu menghempaskan ke dasar tak berujung, begitu... ahh!

#mencibir nasib

Batam, pembuka November 2011


bersungut pada takdir
menjadikan setiap peritiwa sebagai tawa
yang selalu saja melekat
terpatri erat
tak terelakkan
sebagai sebuah ironi
padamu.


mencibir nasib sendiri
menerimanya sebagai badut berhidung merah
menyungging simpul di sudut senyum
tertawa ngakak
dengan bening mengembang di sudut mata
telimpuh.

#tentu saja!

Batam, 30 Oktober 2011


di sini. sepi saja. sendiri. menikmati kenangan setiap yang terlewat.
jatuh bangun. atau tegaknya keinginan saat mendaki puncak.
bersamamu. tentu saja.



seringkali asa tertinggal. di kelokan tajam.
dan bahkan pada saat seharusnya tidak.
tapi tetap saja. hangat rengkuh selalu menemani telimpuh.

sesaat menangis. sesaat menghiba.
menemu cinta. tetap saja. pada sebuah nama.
aku. padamu. tentu saja!

#SEPENGGALAN

Gunung Bintan_Tanjung Pinang, 28 Oktober 2011


Menghitung lagi,
Hari yang berharap tinggal sepenggalan,
sesa'at

Meski nyata hitungan batu masih saja berjajar
Meruah memenuhi hati sesak
Tapi... ahh biasa saja!
...dan bahkan dalam semua rasa sakitnya.

Bentangan kilometer masih saja mengakrabi,
Entah sampai kapan?
Bukannya ini pilihan?
Resiko dari sebuah pilihan

Sungguh, tak ingin tenggelam terjebak
Meski tetap saja...

Perih!