#Beku

Aku memang diam. Berusaha menjadi batu.
Bukan tak punya rasa. Hanya menguncinya dalam ruang tak berpintu.

Dunia... Tetap saja akan berputar konstan. Meski tanpa kita. Meski Kata Mati melekat pada kita.
Dunia akan tetap indah. Meski kita hanya melihat neraka di dalamnya.

Aku berdiri disini. Tetap diam. Tetap beku. Menikmati akhirku.

Aku akan bersegera. Waktuku tak terlalu banyak. Dan bahkan untuk diriku. Do'akan saja...

Semoga semua kebaikan melekat erat padamu. Mengikut kemana setiap langkahmu tertuju...




kawanua cempaka putih_jakarta, 10 desember 2011

#Penuh

Tak bosan Kau dengungkan puja-puji cinta dalam semua batasan waktu
Dan aku masih saja menjadi pemuja setiap kata nya
Biarlah aku penuhi setiap sudut hati dengan rasa
Mengalirkannya dalam setiap tarikan nafas
Menyebarkannya dalam setiap pompaan jantung
Melantunkan ritmis seiring dzikir nadi


Aku penuh. PadaMu.




kawanua cempaka putih_jakarta, 10 desember 2011

#Seribu Peran

menikmati sebatang nikotin tanpa caffein.
selalu menjadi aneh.
seperti bertelanjang sambil menikmati sebuah panggung.
isis!

akulah penghuni taman sajak.
penikmat semua lakon.
penikmat seribu peran.
kamu. kamu. kamu!
bukan aku!

karna aku hanya penikmat.
seorang penonton.
tak lebih.

mari tabuh gendangnya.
menarilah penuh.
buat setiap penonton terperangah.
buat setiap penikmat takjub.

hingga menangis dalam tawa.
ngakak sampai berlinang air mata.


kawanua cempaka putih_jakarta, 09 desember 2011

#Panggungku!

kamu. berlagak drama queen.
aku. penonton setia.


tawa. tangis. canda. serapah.
apa yang terlewat?


baiklah. aku nikmati semua.
lakoni saja.


...dan aku terpukau!




kawanua cempaka putih_jakarta, 09 desember 2011

#pergilah

pergilah...
ambil langkahmu kemanapun engkau mau menuju
usah menoleh ke belakang, takkan ada kata memelas menghiba yang akan memintamu kembali
jangan pernah ragu, takkan lagi terulur tangan untuk mencegahmu berhenti.

pergilah...
telah berlalu semua cerita sepi
sudah tak ada lagi yang menginginkanmu di sini.


kawanua aerotel_cempaka putih_jakarta, 07 Desember 2011

#drama

Usah kau perlihatkan airmata di depanku,
Bukankah kesedihan sudah menjadi biasa?

Jangan kau pamer derita dengan isakmu,
Karna nestapa adalah nama tengah

Luka apalagi yang mau kau tunjukkan padaku?
Tidakkah terlihat jaringan parut panjang belum mengering?

Bawa saja semuanya di panggungmu
Jangan pernah kau suguh lagi di hadapku.


Soekarno-hatta_Jakarta, 07 Desember 2011

#merah

Biadab!!!
Pekikku tepat di telingamu
Tidakkah nurani pernah tersisa di sudut hatimu

Usah kau cari maknanya
Karna amarahku bukanlah sebuah metafora

Berlarilah...
Sebelum kutemu kau dalam jengah
Sembunyilah...
Atau remuk kau temu pada akhirnya.



Garuda, antara Surabaya-Jakarta, 07 Desember 2011

#puisi

Manis senyummu adalah puisi,
sebagaimana kerasnya gemeretak gigimu saat menahan amarah


Gemulai lambai tanganmu adalah puisi,
sebagaimana tanganmu terkepal penuh saat jengah memenuhi ruang hatimu


Lembut sapamu adalah puisi,
sebagaimana makimu memekak telinga saat terusik nuranimu


Senyum, lambaian tangan dan sapamu,
apa yang tidak aku tahu?


Setiap gerak adalah puisi,
yang memenuhi detak setiap hari




juanda_surabaya, 07 desember 2011

#Kerja Keras?


Dalam banyak kesempatan kalakarya dan atau dialog dengan daerah, pada saat sesi paparan hasil survey Riskesdas yang menunjukkan output kinerja yang jauh dari harapan, seringkali terlontar sanggahan defensif dengan kemarahan luar biasa;

“Kami telah bekerja keras pak...”
“Kami ini sudah terlalu sering lembur pak...”
“Kami sudah kejar sasaran sampai ke rumahnya pak...”
“Bapak ini bicara seolah kami ini tidak berkerja...”
“Sudah semua cara kami lakukan pak! Kami sudah maksimal...”
“Bapak enak cuman ngomong doang, kami ini yang di lapangan sudah bekerja sangat keras!”
“Bapak ini tidak tahu situasi lapangan, hanya bicara angka-angka saja...”

Begitu banyak yang terlontar, begitu banyak yang terucap, dan hampir semuanya tersampaikan dengan emosi yang tersulut, meski kadang disampaikan dengan nada lirih yang tertahan.
Meski sebenarnya pengennya misuh-misuh*... (*mengumpat,red)

“Apakah mereka tidak bekerja keras?”
Heiii! Mereka bekerja keras!
Sangat keras bahkan...
Pekerja kesehatan banyak kali merupakan pekerja keras. Tak jarang mereka benar telah melakukan banyak hal melebihi gaji yang mereka terima.

Kemarahan yang ditunjukkan dengan kalimat defensif massif benar-benar mewakili pernyataan bahwa mereka telah bekerja keras, bahwa mereka telah bersama-sama melakukan banyak hal untuk kesehatan di wilayahnya, untuk masyarakat yang diampunya.

Saya ulang pertanyaannya,
Apakah mereka telah bekerja keras?”
Dan berdasarkan amatan lapangan, tidak bisa kita pungkiri mereka memang benar telah bekerja keras! Sangat keras!!!
Mereka, yang tergabung dalam wadah Dinas Kesehatan telah bekerja bersama-sama dengan sangat, untuk berusaha membangun kesehatan yang lebih baik di wilayahnya.
Dan lalu apa yang kurang?
Kerja sama!
Yup, kerja sama!
Mereka telah bekerja keras bersama-sama, tapi seringkali belum bekerja sama.

Maksud???
Dalam sebuah kerja sama, yang dibutuhkan bukan hanya kerja keras, tapi ada koordinasi di dalamnya, ada dialog di antara para pelakunya.

Dialog???
Yaa... dialog! Yang seringkali kita bawa dan dengungkan dimana-mana.
Dialog bukan hanya sekedar media koordinasi. Dialog juga merupakan media saling memahami dengan visi bersama. Dialog adalah media melebur struktur internal menjadi sebuah struktur kolektif. Dialog merupakan sebuah therapi wicara, yang kadang kita terlupa, bahwa banyak para rekan kita di lapangan butuh didengar keluhannya, kadang bukan untuk dicarikan sebuah solusi, kadang mereka benar-benar hanya ingin didengar, mereka sudah memiliki solusi ampuh atas masalah di lapangan itu. Bukankah justru mereka yang paling tahu masalah yang mereka hadapi?

Bekerja sama!
Dan bukan hanya bekerja keras bersama-sama...

Piye jal?

#masih sangat!

Bandara Soetta_Jakarta, 12 November 2011


delay setengah jam.mungkin cukup waktu untuk sekedar merenung sebuah perjalanan, yang dibungkus atas nama pengabdian.meski seringkali bingung dan tak mengerti, apa benar memberi kontribusi?
hanya seringkali merasa menikmati, saat bersama-sama dengan banyak ponggawa negeri, yang benar-benar sangat menikmati menjadi seorang pengabdi.

mendengung-dengungkan pelajaran,
"bergaulah dengan penjual minyak wangi, maka kamu akan tertular wanginya..."

aku ingin wangi? tentu saja! meski seringkali tak bernyali telimpuh padaMU.
hanya yang suci milikMu? aku bukan

memandangMu dari kejauhan, berharap tanganMu yang terulur, bukankah Engkau Maha Tahu tentang hati yang menginginkan? bukankah Engkau Maha Mengerti tanpa harus kubisikkan?

aku padaMu? tentu saja!
meski terlalu sering mengambil jalan yang bukan milikMu
aku pengabdiMu? masih! sangat!

 
tidakkah ingin memelukku... Kekasih?