#SEPI

tulungagung, 26 mei 2011


terlalu sering timpang dalam setiap perjalanan. tertatih menjalani semua asa yang coba teraih.
selalu saja ada yang kurang. tak lengkap.
tak pernah lengkap.

menjalani sepi dalam setiap kilometer yang terlampaui. dalam setiap bengkahnya.
tak juga bisa mengalihkan. tak juga sanggup memasung tabir. meski sekedar.
meski hanya sekedar.

tatap lembut yang adalah pandang untukku. senyum tulus yang tak lekang dalam semua gundahmu.
wajah kasih yang adalah milikku.
yak benar... milikku!

untukmu yang memenuhi sepi. aku akan kembali.

"i love u..."

Batam, 31 Mei 2011


"i love u..." serak terasa saat kata itu meluncur dari leher yang tercekat
sepenggal kata...
yang lebih terasa seperti saat pertama kali terucap padamu
hanya kini lebih tersadari...
lebih menusuk dasar hati...

"i love u..." kukatakan sekali lagi
sebelum semuanya menjadi terlambat
sebelum aku...
ya! kukatakan sekali lagi

"i love u..."
lirih kubisikkan padamu
sebelum datangnya sebuah penyesalan
sebelum Sang Penyemat Cinta membisukan semuanya


"i love u... i love u... i love u..."

#ISYARAT?

hari ini lebih terasa dekatnya
terjerembab berkali dalam saat yang sama,
dalam tempat yang hanya sedikit bergeser.

mungkin memang hampir sampai detiknya,
hampir pada saatnya.

sebuah isyarat...
mungkin saja sebuah pertanda

siapkah?
tak akan pernah merasa siap
seberapapun waktu

hanya keikhlasan...
hanya keikhlasan...
semoga

#mati!

Menutup semua pintu hatiku
Mengunci setiap jendela
Tak memberi harapan pada setiap lubang


Mati!
Karna aku ingin kamu mati di dalam ku
Takkan kusisa waktu
Bahkan untuk sekedar berpaling

#TAK LAGI

Mataram, 29 April 2011

Birunya hati pagi ini tak lagi tentang banyaknya keinginan yang belum dan tak akan pernah bisa terpenuhi. Ianya lebih karena kelemahan yang berwujud pada kesadaran sebagai sebuah wayang yang jalannya sudah digariskan begitu saja, seberapapun berusaha.

Meski juga kewajiban sebagai wayang untuk tetap berusaha.

Tapi sungguh, kesadaran sebagai wayang begitu melegakan, begitu meluaskan hati, atas apapun hasil, sebagai akibat dan konsekuensi dari sebuah upaya yang bernama kerja keras.

Harapan hanyalah seonggok harapan, tak bisa beranjak dari semua ketentuan.

Keikhlasan, meski selalu saja tertulis dalam tinta emas sebagai sebuah pengakuan dan perwujudan atas ilmu paripurna, tetap saja lebih menjadi sebuah pepesan kosong sebagai sebuah sikap yang seringkali dilakonkan setiap wayang dengan setengah hati, dengan berlindung atas sebuah kata permisif, manusiawi.

Berharap tak lagi…
meski…

aahh…

#padaMu

menikmati saja yang diberikan dalam setiapnya. meski selalu saja keangkuhan seorang mahluk tak pernah sungguh-sungguh bisa lepas. hanya lepas dari pingsan sesaat, sementara selalu saja kembali berdiri pongah dalam keangkuhan.

ini mahlukMu... yang seringkali terlupa ada ketentuan, ada batasan, dalam dalam setiapnya.

tak bisa benar-benar menjalani semua perintahMu. tapi tetap saja... berharap penuh pada keMahaArifanMu.



kupang, jum'at pagi, 23 september 2011

#Keluh

Ranai_Natuna, 24 Oktober 2011


Menuntas jengah saat di tengah
Tak jua kunjung purna dalam gelisah
Aku padamu...
Seperti lalu dan juga Pada saat

Jengah menetap bukannya takdir
Meski berpura diam bukanlah sungguh
Meredam dengan sungguh apapun itu
...yang dinama rindu

#Takkah?

Ranai_Natuna, 24 Oktober 2011


Menemu jiwa pada sepi
Sebelah sedang tak berada
Galau rindu yang terlalu
Tak jua beringsut Pada nama

Lekang lelah berharap sua
Takkah menggenggam risau yang sama?


Takkah?

bersimpuh

dan lalu aku tersungkur mencium bumi...

menghambur syukur
telah digariskan bersamamu
i love you!

Saptakanda Ramayana

Hana sira Ratu dibya rēngőn, praçāsta ring rāt, musuhnira praṇata, jaya paṇdhita, ringaji kabèh, Sang Daçaratha, nāma tā moli


dan dia adalah rahwana…
seorang raksasa buruk rupa yang mencintai shinta

dan dia adalah rahwana…
yang dipaksa walmiki menjadi antagonis demi sebuah epos milik rama?

apa salahnya punya cinta?
apakah karena dia seorang buruk rupa, sehingga tak boleh punya cinta?
apakah karena dia seorang raksasa, sehingga tidak pantas untuk shinta?

dan dia adalah rahwana...
seorang ksatria perkasa yang berkalang tanah memeluk panah brahmāstra