#ego laki-laki dewasa

Aku adalah aku, keegoisan dalam bungkus lelaki dewasa.
Aku melangkah kemanapun kakiku hendak menuju, menapak dengan semua egoku.
Aku dalam semua keegoisanku, menulis hanya dari sudut pandangku.
Aku berlaku seperti layaknya aku, tak juga peduli meski yg menampak adalah ego laki-laki dewasa.
Tidak Ada kita dalam aku, kerna kamu lebur bersama aku, senyawa.
Ujung dari semua cita-cita sosialku adalah aku, juga semua proses hanya bisa berjalan dengan egoku.
Aku... yak aku! Yang akan menuntas semua dengan ego. Tak kubiar selain aku mencampur tangan dalam urusan.
Aku, meski terduduk lesu, aku adalah aku! Tak kubiar kamu menjadikanku kita.
Aku akan hanya berjalan ke arah mana mataku tertuju, tak perlu lirikanmu mengarahkanku. Meski kerlingmu memabukkanku.
Memelukmu penuh bukanlah kita, kerna kamu kubawa terbang ke dalam aku.
Aku, aku, aku... Tenggelam dan menenggelamkan diri dalam sepenuh aku!
Penuh!

#bandara adi sucipto jogjakarta_03062012

Cerita tentang Sri Sultan

Indrapura_Surabaya, 13 April 2012


Beberapa waktu lalu di milis ‘desentralisasi kesehatan...

Ada komentar dari rekan Alpiantri S.kep yang menanggapi artikel ‘Sultan: Kampanye Antitembakau Pangkal Pengangguran’ (http://regional.kompas.com/read/2012/04/02/14503997/Sultan.Kampanye.Antitembakau.Pangkal.Pengangguran) dengan tuduhan, Sri Sultan membuat sebuah keputusan hanya dengan melihat satu sisi saja;


“Sangat disayangkan seorang sultan berpidato seperti itu, hanya melihat
dari aspek ekonomi dan penganggurannya saja...”

dan saya spontan membalas,

“dear alpriantri, saya malah bisa menuduh sebaliknya.
Sampeyan cuman melihat dari sisi 'kesehatan'nya saja!
Banyak hal yang harus dipertimbangkan seorang decision maker.”

Tidak!
Saya bukannya tidak setuju dengan kampanye anti rokok.
Silahkan saja...


Yang saya tidak sepakat adalah bahwa tuduhan saudari Apriantri pada Sri Sultan yang hanya membuat keputusan berdasarkan hanya satu-dua pertimbangan saja.

Saya seseorang yang belajar ‘analisis kebijakan’,
dan tentu saja saya paham betul seorang decision maker tidak membuat kebijakan dengan semena-mena hanya berdasarkan satu bidang saja,
termasuk di dalamnya ‘bidang kesehatan’!

Seorang decision maker kadang membuat keputusan yang tidak disukai banyak orang, dan seringkali seorang decision maker membuat keputusan yang tidak disukai, bahkan dirinya sendiri.

Kebijakan adalah pilihan...
seringkali bukan soal salah atau benar,
tergantung kita mau memilih kebijakan yang mana,
yang terpenting adalah konsekuensi dari setiap pilihan.
Bisakah kita mengantisipasi konsekuensi pilihan kita?


-ADL-

#Pelukan Hangat


Saat ini... biarkan lelaki yang mencintaimu ini pulang
Bermanis mukalah...
Berlagaklah bahwa kau juga mencintainya sepenuh hati
Berpuralah bahwa dia adalah harapan bagi hidupmu

Saat ini... biarkan lelaki yang mencintaimu ini pulang
Terimalah dia dengan pelukan hangat...
Besarkanlah harapan akan masa depan
Jangan biarkan sakit itu menjadikannya lemah

Saat ini... biarkan lelaki yang mencintaimu ini pulang
Rengkuh dia dalam peluk hangatmu...
Berikanlah kenyamanan yang selalu diinginkannya
Dan lalu... biarkanlah racun itu bekerja dengan sempurna


Alia Cikini_Jakarta, 11042012

#tanda

bila telah sampai pada titikku...

akan kutinggal banyak kenang,
meski sebagiannya adalah hitam.
kenangi saja....

kita telah banyak membuat kisah,
bahagia pernah menjadi bahagiannya.
setidaknya sedikit...

aku pernah menggenggam tanganmu demikian erat,
meski juga sesekali terlepas.
bukankah kuat berdiri telah menjadi milikmu?

syukuri saja setiapnya,
apapun itu!


Santika, 27 maret 2012