Cerita tentang Sri Sultan

Indrapura_Surabaya, 13 April 2012


Beberapa waktu lalu di milis ‘desentralisasi kesehatan...

Ada komentar dari rekan Alpiantri S.kep yang menanggapi artikel ‘Sultan: Kampanye Antitembakau Pangkal Pengangguran’ (http://regional.kompas.com/read/2012/04/02/14503997/Sultan.Kampanye.Antitembakau.Pangkal.Pengangguran) dengan tuduhan, Sri Sultan membuat sebuah keputusan hanya dengan melihat satu sisi saja;


“Sangat disayangkan seorang sultan berpidato seperti itu, hanya melihat
dari aspek ekonomi dan penganggurannya saja...”

dan saya spontan membalas,

“dear alpriantri, saya malah bisa menuduh sebaliknya.
Sampeyan cuman melihat dari sisi 'kesehatan'nya saja!
Banyak hal yang harus dipertimbangkan seorang decision maker.”

Tidak!
Saya bukannya tidak setuju dengan kampanye anti rokok.
Silahkan saja...


Yang saya tidak sepakat adalah bahwa tuduhan saudari Apriantri pada Sri Sultan yang hanya membuat keputusan berdasarkan hanya satu-dua pertimbangan saja.

Saya seseorang yang belajar ‘analisis kebijakan’,
dan tentu saja saya paham betul seorang decision maker tidak membuat kebijakan dengan semena-mena hanya berdasarkan satu bidang saja,
termasuk di dalamnya ‘bidang kesehatan’!

Seorang decision maker kadang membuat keputusan yang tidak disukai banyak orang, dan seringkali seorang decision maker membuat keputusan yang tidak disukai, bahkan dirinya sendiri.

Kebijakan adalah pilihan...
seringkali bukan soal salah atau benar,
tergantung kita mau memilih kebijakan yang mana,
yang terpenting adalah konsekuensi dari setiap pilihan.
Bisakah kita mengantisipasi konsekuensi pilihan kita?


-ADL-

#Pelukan Hangat


Saat ini... biarkan lelaki yang mencintaimu ini pulang
Bermanis mukalah...
Berlagaklah bahwa kau juga mencintainya sepenuh hati
Berpuralah bahwa dia adalah harapan bagi hidupmu

Saat ini... biarkan lelaki yang mencintaimu ini pulang
Terimalah dia dengan pelukan hangat...
Besarkanlah harapan akan masa depan
Jangan biarkan sakit itu menjadikannya lemah

Saat ini... biarkan lelaki yang mencintaimu ini pulang
Rengkuh dia dalam peluk hangatmu...
Berikanlah kenyamanan yang selalu diinginkannya
Dan lalu... biarkanlah racun itu bekerja dengan sempurna


Alia Cikini_Jakarta, 11042012

#tanda

bila telah sampai pada titikku...

akan kutinggal banyak kenang,
meski sebagiannya adalah hitam.
kenangi saja....

kita telah banyak membuat kisah,
bahagia pernah menjadi bahagiannya.
setidaknya sedikit...

aku pernah menggenggam tanganmu demikian erat,
meski juga sesekali terlepas.
bukankah kuat berdiri telah menjadi milikmu?

syukuri saja setiapnya,
apapun itu!


Santika, 27 maret 2012

#Sampun sonten nimas

Sampun sonten nimas...
perjalanan kita seharusnya sudah hampir memenuhi purna
aku, terengah mengapai akhir

Sampun sonten nimas...
mungkin tlah habis masa bersenang
sudah bukan lagi waktunya memenuhi hari dengan kekonyolan

Sampun sonten nimas...
tanganNya telah terentang menyambut
meski aku malu, hati terlalu sering melupa



Sampun sonten nimas...
mungkin bukan lagi waktu bagi kita, meski sekedar ada
doa tak lagi bisa menggetarkan langit, seorang pendosa

Sampun sonten nimas...
Mungkin benar tak ada lagi waktu, bersamamu
Meski sekedar, minum kopi


Indrapura_Surabaya, 29 Maret 2012

Telimpuh #2

Menempuh jalan sabar bukannya sekali
Ianya sekali... sekali... sekali...
berkali dan berkali!

Terlalu sering menempuh aral yang lebih mirip tembok beton tak berujung
Hanya berujung pada rasa neg dan muak yang teramat
Bukan lagi tentang jalan yang berliku
Ini hanya tentang jalan yang lurus... terlalu lurus!
Lurus dan langsung menabrak kerasnya kebekuan

Sungguh tak ingin hanya berdiam dalam jengah
Bergeser... beringsut sedikit pun sudah sangat melegakan
Lebih mirip sepoi angin yang menerpa saat menikmati hangatnya kopi pagiku

Tapi kaki ini terlanjur letih
Hati terlanjur bersandar pada lemahnya rasa ingin
Melupa pada awal yang menggebu... hampir!
Tak lagi tergapai...
uluran tangan yang semakin saja... menjauh!

Diam... hanya diam!
Memejam mata lelah yang semakin redup
Menghembus nafas dalam yang semakin dalam
Melepas beban yang semakin sarat
Membayang pelukan Kekasih yang sungguh mendamaikan
Bilakah aku kembali padaMu?

Kembali pada titik awal
Pada saat semua dunia dalam genggaman
Pada saat hitam menjadi sedemikian berwarna
Pada saat satu tarikan nafaspun berujung pada seribu kebaikan
Pada saat... telimpuh padaMu menjadi  sebuah nikmat tak berujung!


Padjadjaran Suites Hotel_Bogor, 16 Februari 2012

#Bunda, Tiada Selainmu...


Bunda. Berkali sikap dan tindak ini menyakiti hati dan rasamu. Berkali selalu saja ma’afmu mencurah penuh untuk itu.

Bunda. Berkali engkau menangis karena sikap pongahku. Berkali selalu saja kau sedia pangkuan yang selalu saja menenang keangkuhanku.

Bunda. Berkali tubuhmu tercabik sinisme egoku. Berkali selalu saja kau ikhlaskan untuk selalu bisa mendukungku.

Bunda. Berkali sakit, dera dan semua yang bernama lain kesedihan memenuhi hari-harimu. Berkali selalu saja tanganmu terkembang menerimaku apa adanya.

Bunda. Tiada seorang di dunia ini yang mendapat panggilan bunda dari bibirku selainmu. Kerna padamu menemu kedamaian yang mampu mendinginkan angkuhku.


Maharadja Hotel_Jakarta, 29 Desember 2011

#Bila Ini Adalah Sebuah Jalan



Bila ini adalah sebuah jalan yang harus dilalui, maka tidak ada pilihan lain selain menjalaninya sepenuh hati.


Bila ini adalah sebuah jalan untuk menjalankan sisa dharma yang berkali terabaikan, kubutakan mata selain hanya penuh pada jalanMu.


Bila ini adalah sebuah jalan yang satu-satunya untuk menujuMu, maka kaki gemetar akan tetap melangkah pasti di jalan itu.


Bila ini adalah sebuah jalan untuk bisa rebah dipangkuanMu, maka tidak ada kekuatan selainMu yang harus kuhirau selain cahaya menujuMu.


Bila ini adalah sebuah jalan... seret saja , paksa aku, bersimpuh di kakiMu!




Maharadja Hotel_Jakarta, 29 Desember 2011

#Jalan Kembali



Seorang lelaki dan keangkuhannya. Kembali terjengkang menawar takdir yang ditulisnya sendiri. Merintih meratapi jalan yang benar harus dilaluinya. Sakit, tentu saja!

Jalan kesendirian dalam bingarnya kehidupan harus kembali diterjang dengan tubuhnya yang semakin ringkih. Terjengkang berkali harus dilewati untuk menjadi berani. Meski selalu saja, melemahkan hati.

Lelaki dengan keangkuhannya. Tunduk rebah kepada Sang Pembolak-balik Hati. Tak ada lagi yang tersisa dari tegaknya sebuah keinginan selain hanya kembali. Terima nasib yang mencabiknya demi sebongkah hati.

Sekali lagi menempuh jalan Ibrahim yang terlalu lama tergeser keangkuhan. Bukannya sekali, ianya berkali.
Tuhan, masih saja merentangkan tanganNya. Penuh!

Ibrahim bukannya tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi ianya selalu saja kembali.

Seorang lelaki dan keangkuhannya, memegang kembali sebuah yakin yang digenggamnya penuh.
Kali ini, tanpa keangkuhan yang telah diambil kembali Sang Pemilik Angkuh.

Jalan berduri dan berkerikil tajam adalah jalanmu untuk kembali!



Maharadja Hotel_Jakarta, 29 Desember 2011

#jalani saja...




hanya sebuah ego dan keakuan.
bergerak meski tertatih.
menikmati mesti terjengkang.
tak lagi ada pilihan.
jalani saja...


bukan lagi saatnya mengeluh




surabaya, 27 desember 2011

#Sajak Berahi

Menyusuri lorong sebuah masa yang masih saja melekat erat di setiap sudut ingatan. Tentang kita. Masih hangat. Masih sepenggalan waktu. Serasa baru kemarin. 
Tanganmu masih erat dalam genggamku. Pelukku hangat merengkuh tubuhmu. Bibir itu... Selalu saja lembut saat senyummu terbasahi bibirku.

Hanya bisa tersenyum merasai.
Menyimpan rapi dalam sudut Hati.

Aku. Kamu. dan semua rasa rindu.


kawanua cempaka putih_jakarta, 10 desember 2011